Kekuatan Berpikir Positif

Berpikir positif merupakan sikap mental yang melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan gambaran-gambaran yang konstruktif (membangun) bagi perkembangan pikiran anda. Pikiran positif menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya. Jadi berpikir positif juga merupakan sikap mental yang mengharapkan hasil yang baik serta menguntungkan.

Tidak semua orang menerima atau mempercayai pola berpikir positif. Beberapa orang menganggap berpikir positif hanyalah omong kosong, dan sebagian menertawakan orang-orang yang mempercayai dan menerima pola berpikir positif. Diantara orang-orang yang menerima pola berpikir positif, tidak banyak yang mengetahui cara untuk menggunakan cara berpikir ini untuk memperoleh hasil yang efektif. Namun, dapat dilihat pula bahwa semakin banyak orang yang menjadi tertarik pada topik ini, seperti yang dapat dilihat dari banyaknya jumlah buku, kuliah, dan kursus mengenai berpikir positif. Topik ini memperoleh popularitas dengan cepat.

Kita sering mendengar orang berkata: “Berpikirlah positif!”, yang ditujukan bagi orang-orang yang merasa kecewa dan khawatir. Banyak orang tidak menganggap serius kata-kata tersebut, karena mereka tidak mengetahui arti sebenarnya dari kata-kata tersebut, atau menganggapnya tidak berguna dan efektif. Berapa jumlah orang yang anda kenal, yang memiliki waktu untuk memikirkan kekuatan dari berpikir positif?

Cerita berikut mengilustrasikan bagaimana kekuatan berpikir positif bekerja:

Beno mengajukan lamaran kerja, namun kepercayaan dirinya rendah, dan dia menganggap dirinya gagal dan tidak layak memperoleh kesuksesan, ia merasa yakin bahwa ia tidak akan memperoleh pekerjaan tersebut. Ia memiliki pikiran negatif terhadap dirinya sendiri, dan percaya bahwa calon pegawai yang lain lebih baik dan lebih memenuhi syarat dibandingkan dirinya. Beno memperoleh sikap ini karena pengalaman buruk yang ia peroleh dari wawancara pekerjaan yang telah ia ikuti sebelumnya.

Pikirannya dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif dan rasa takut atas pekerjaan tersebut selama satu minggu penuh sebelum ia akan diwawancara. Ia yakin ia akan ditolak. Pada hari wawancara ia bangun terlambat, rasa takutnya menjadi kenyataan. Ia mendapati kemeja yang akan ia kenakan kotor, dan kemejanya yang lain harus disetrika. Dan karena ia sudah terlambat, ia memutuskan untuk mengenakan kemeja yang kusut.

Selama wawancara, ia merasa tegang, menunjukkan sikap negatif, khawatir mengenai kemejanya, dan merasa lapar karena ia tidak memiliki cukup waktu untuk sarapan. Semua hal ini menyebabkan pikirannya teralihkan dan sulit baginya untuk fokus pada wawancara. Sikapnya secara keseluruhan menimbulkan kesa yang buruk, dan sebagai akibatnya rasa takutnya menjadi kenyataan dan tidak memperoleh pekerjaan tersebut.

Budi juga mengajukan lamaran atas pekerjaan yang sama, namun ia menyikapinya secara berbeda. Ia merasa yakin bahwa ia akan memperoleh pekerjaan tersebut. Satu minggu sebelum wawancara, ia sering memvisualisasikan dirinya memperoleh pekerjaan tersebut.

Malam hari sebelum wawancara, ia menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan dan tidur lebih awal dari biasanya. Pada hari wawancara, ia bangun lebih awal dari baiasanya, sehingga ia memiliki cukup waktu untuk sarapan, lalu tiba di tempat wawancara sebelum jadwal.

Ia memperoleh pekerjaan tersebut karena ia berpikir positif terhadap hal-hal yang ia lakukan. Tentunya ia juga memenuhi persyaratan untuk memperoleh pekerjaan tersebut, sama halnya dengan Beno.

Apa yang bisa kita pelajari dari dua cerita tersebut? Apakah ada sihir yang digunakan dalam cerita tersebut? Tidak, semuanya merupakan hal yang alami. Jika kita memiliki sikap yang positif, sikap-sikap tersebut akan menghasilkan perasaan-perasaan yang positif, gambaran-gambaran yang konstruktif, dan kita akan melihat dalam mata pikiran kita apa yang kita inginkan. Hal ini akan memberikan pencerahan, lebih banyak kekuatan, dan kebahagiaan. Diri anda juga akan memancarkan kebaikan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Bahkan pikiran positif juga akan memberikan beragam manfaat bagi kesehatan anda. Kita berjalan tegak dan suara kita lebih berwibawa. Bahasa tubuh kita menunjukkan perasaan kita.

Pikiran Positif dan Negatif Menular


Setiap dari kita mempengaruhi orang-orang yang kita temui, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini terjadi secara naluriah, dalam pikiran bawah sadar anda, yang terpancar melalui pikiran dan perasaan, serta bahasa tubuh kita. Orang di sekeliling kita dapat merasakan aura kita dan dipengaruhi oleh pikiran kita, juga sebaliknya. Wajarkah jika kita ingin berada di sekitar orang-orang yang positif dan menghindari orang-orang yang negatif? Orang lebih tergerak untuk membantu kita jika kita bersikap positif, dan mereka tidak menyukai dan menghindari siapapun yang bersikap negatif.

Pikiran-pikiran, kata-kata, dan sikap negatif akan menghasilkan mood serta tindakan yang negatif dan tidak menyenangkan. Semua hal ini akan berujung pada kegagalan, frustrasi, dan kekecewaan.

Instruksi-Instruksi Praktis


Untuk merubah pikiran anda menjadi positif, diperlukan latihan dan kemauan untuk merubah diri anda karena sikap dan pola pikir tidak dapat berubah dalam sekejap.

Simaklah topik berikut, pikirkan keuntungan yang akan anda peroleh dan ajaklah diri anda untuk mencobanya. Kekuatan pikiran merupakan kekuatan dahsyat yang selalu membentuk kehidupan kita. Proses pembentukkan biasanya dilakukan di dalam pikiran bawah sadar kita, namun sangatlah mungkin untuk melakukan proses tersebut secara sadar. Meskipun usulan tersebut terdengar cukup aneh; cobalah untuk melakukannya, karena anda tidak akan merasa rugi; sebaliknya anda akan memperoleh banyak hal. Acuhkan apapun pendapat orang lain tentang diri anda ketika anda mengubah pola pikir anda.

Selalu visualisasikan situasi yang menguntungkan dan bermanfaat bagi anda. Gunakan kata-kata positif dalam suara hati anda atau ketika anda berbicara dengan orang lain. Tersenyumlah sedikit lebih banyak, karena senyuman akan membantu anda untuk berpikir lebih positif. Abaikan perasaan malas atau keinginan untuk berhenti. Jika anda bertahan, anda akan berubah pola pikir anda.

Saat pikiran negatif memasuki pikiran anda, anda harus mewaspadainya dan menggantikan pikiran tersebut dengan pikiran yang lebih konstruktif. Pikiran negatif akan mencoba memasuki pikiran anda lagi, dan sekali lagi anda harus menggantikannya dengan pikiran positif. Seakan-akan anda dua gambar di depan anda, dan anda memilih untuk melihat salah satu gambar tersebut dan mengabaikan gambar yang lain.

Jika tiba-tiba merasakan perlawanan dari dalam diri anda ketika anda berusaha mengganti pikiran-pikiran negatif tersebut, jangan menyerah. Tetap fokuskan diri anda pada pikiran-pikiran yang positif dan menyenangkan.

Terlepas dari keadaan anda saat ini, berusahalah untuk berpikirlah positif. Pikirkan hasil serta situasi yang menguntungkan anda, dan keadaan akan berubah sesuai dengan pikiran anda. Perubahan ini tentunya membutuhkan waktu, namun pada akhirnya perubahan akan terjadi.

Metode lain yang bisa anda lakukan adalah melakukan afirmasi berulang kali. Afirmasi merupakan metode yang menyerupai visualisasi, secara lebih kreatif, dan keduanya bisa digunakan secara bersamaan.

Selamat Berpikir Positif!

Saatnya berubah !!!

Manusia kan tempatnya khilaf dan salah...., setidaknya itu ucapan yang biasa di ucapkan oleh kebanyakan orang setelah berbuat Dosa/maksiat atau kesalahan, nah biasanya orang yang keseringan berkata begitu akhirnya diam seribu bahasa tanpa ada perubahan sedikitpun, sobat...!!! Diam tentunya bukanlah suatu solusi. Tetapi haruslah ada perbaikan. Perbaikan dari awal. Secepatnya!... yaitu sekarang!!

Nah sob sedikit neh ane berikan petunjuk, bimbingan menuju perubahan tersebut? Hehhehe sebetulnya sih ini bukan petunjuk dari ane sih, tapi petunjuk dari yang Maha memberi petunjuk yaitu Alloh SWT, Insya Alloh petunjuk, bimbingan yang membuat Alloh memaafkan kita, sekaligus membersihkan masing-masing diri kita dari segala kejahiliyahan yang pernah bersarang dalam diri bahkan mungkin sudah berkarat. Okeh deh sob langsung aja neh....

Taubat sebagai solusi; obat dan media peningkatan diri.

Solusi yang diberikan Alloh kepada kita adalah dengan satu kata. Yaitu Taubat!
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada Allah dan tulus ikhlas agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.
[4:146]
Langkah2 membersihkan diri

Taubat merupakan langkah awal bagi setiap orang yang akan melakukan perbaikan diri. Tetapi pemahaman mengenai taubat juga tidak dalam arti dari keadaan berdosa menuju perbaikan diri. Tetapi taubat juga berati upaya peningkatan diri. Tapi jelas, kedua-duanya merupakan upaya untuk tetap hidup dalam garis Tauhid.

Taubat menurut imam Haramain (Abdul Ma’ali al-Juwaini) adalah meninggalkan keinginan untuk kembali melakukan perbuatan dosa seperti yang telah dia lakukan sebelumnya dengan motif membesarkan Alloh dan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.

Taubat hendaklah dilakukan dengan sebenar-benarnya taubat, bukan main-main, tetapi sadar bahwa jalan inilah yang akan menyelamatkan dirinya. Memasang janji yang kuat dalam qolbu, bahwa sejak saat ini diri akan bertaubat, dan akan berupaya penuh untuk memenuhi janjinya tersebut. Berupayalah sebisa mungkin untuk tidak lalai / lupa akan janji kita.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.
[59:19]

Menurut Al-ghozali ada 3 hal yang mengkerangkai setiap perbuatan, yaitu Ilmu hal / Keadaan dan Amal. Begitupun halnya dengan taubat. Sesorang harus mengerti, tahu ilmu tentang apa itu dosa, kemudian kenapa harus taubat. Setelah itu dirinya mengambil keputusan hati untuk beritiqod untuk melakukan perbaikan diri. Sehingga hati / jiwanya senantiasa diliputi oleh semangat perbaikan diri. Baru setelah itu akan terlihat wujudnya dalam amal fisiknya.

Taubat bisa diibaratkan seperti seorang pembalap mobil off road, lalu ia salah mengambil rute Rally. Pada saat ia tersadar bahwa ia telah jauh tersesat dari lintasan yang ditetapkan oleh panitia Lomba, maka ia pasti akan kembali ketitik awal dimana terakhir kalinya ia yakin masih dalam rute yang benar.

Kemudian dengan serta merta ia bergegas memacu mobilnya secepat mungkin. Karena sang pembalap tadi sadar bahwa secara waktu ia minimal telah rugi 2 kali. Kerugian pertama ia telah menyia-nyiakan waktunya untuk menempuh rute rally yang salah. Kerugian yang kedua ia harus menyediakan waktu untuk ngebut kendaraannya kembali rute awal yang benar.

Sehingga kalau ia termasuk pembalap yang sadar jika sedang “balapan”, maka ia minimal harus “menggeber” kendaraannya minimal 2 kali lipat dari sebelumnya, agar ia minimal bisa mengejar ketertinggalannya dari pembalap-pembalap yang lainnya.

Begitupun dengan taubat. Ketika sadar bahwa telah menempuh jalan yang salah / batil, maka sesegera mungkin berhenti, lalu berupaya mencari dan kembali ke jalan yang benar.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
[3:133]
Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri , mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
[3:135]

Maka langkah taubat yang benar setelah ia sadar, kemudian kembali titik awal.. adalah Ash-laha.. yaitu mengejar ketertinggalan dengan sungguh-sungguh.

Ashlaha diartikan sebagi perbaikan, maksudnya melakukan perbaikan ruhaniyyah dan jasmaniyyah menuju keridloan Alloh sejati.

Perbaikan ini pula diartikan sebagai memurnikan kembali fitroh kita. Beberapa langkah Aslaha dicantumkan dalam Alqur’an sebagai berikut;

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ,
[30:30]

adalah menghadapkan, menyesuaikan, memasukkan diri dan kehidupan kita kepada dien yang sesuai dengan fitroh diri, yaitu Dien Alloh.

Langkah selanjutnya adalah berupaya melaksanakan syariat Islam dengan benar. Kemudian hidup bersama-sama dengan orang yang benar / shodiq.

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.
[9:119]

Berjanji setia untuk memurnikan tauhid kepada Alloh, hidup bersyari’at Islam, dan berkepemimpinan Alloh Rosul dan Orang-orang yang beriman.

Hal yang serupa telah terjadi pada sahabat Nabi bernama Umar bin Khottob. Selama ini ia telah menjadi orang yang sangat keras memerangi Islam. Kemudian Beliau yang pada sadar bahwa selama ini ia telah salah. Salah dalam mengambil konsep kebenaran, salah dalam berprinsip. Salah dalam memandang siapa yang harusnya dijadikan teman, siapa yang harusnya jadi lawan. Salah memilih pimpinan, salah mengambil masyarakat, salah dalam bersistem, berideologi, salah aqidah… tegasnya tauhidnya salah.

Kemudian setelah ia sadar akan kekeliruannya tadi maka bersegeralah ia mencari Rosullulloh SAW. Untuk apa ?

Untuk berangkat mencari kawan baru.. yaitu Nabi dan para sahabatnya yang sodiq dan Sholih…. Untuk apa ?

Untuk berjanji setia; bahwa sejak saat itu ia akan betul-betul bertauhid, tidak akan musyrik, musyrik dalam segala implentasinya, sekaligus hidup hanya dengan aturan, syariat Alloh, yaitu syariat Islam.. dan yang terakhir siap dibina, dibimbing dan dipimpin oleh Rosululloh SAW dalam masyarakat, pemerintahan Islam. Yang semua itu disimpulkan dalam 2 kalimah Syahadah.

Dan setelah itu Jadilah Umar, sebagai orang yang Ash-laha. Yaitu orang yang memicu amal sholehnya. Yang dulunya adalah penentang Islam, kini ia akan memenggal kepala siapa saja yang berani mengganggu Rosululloh dan sahabatnya. Yang dulunya adalah orang yang sangat membela dan cinta kepada kejahatan, kebatilan.. tapi kini ia adalah orang yang memiliki kebencian yang mendalam terhadap kepada kebatilan, tegas… memiliki sikap furqon yang jelas antara yang haq dan batil.

Inilah gambaran contoh orang yang bertaubat. Ia bertaubat dengan segenap jiwanya. Bahkan sampai akhir hayatnya. Tinggal semua yang kita bicarakan tadi akan kembali kepada pertanyaan yang sangat esensi, bagaimanakah dengan diriku?

Jika setiap orang yang sadar bahwa ia telah salah kemudian mereka bergegas untuk memutihkan diri kepada Islam. Adapun pula mereka yang sadar bahwa hidup ini sangat memerlukan peningkatan maka mereka juga tetap kembali kepada Alloh dan melakukan Ashlaha…

Percepatan perbaikan....siapa takut???

Right Now !!!

Right Now !!!, sekaranglah saatnya. Saat untuk apa ? tentu saja saatnya membaca diri, sekaligus memperbaiki diri. Tidak ada lagi waktu untuk bersantai-santai. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi man?
Kenapa? Ya setidaknya ada beberapa hal yang melandasi kenapa harus sekarang; hal ini, diantaranya :


Hidup Manusia tidak bisa lepas dari Penyakit

Satu hal yang tidak bisa pungkiri adanya, bahwa memang banyak penyakit disekitar kita. Terkhusus disini adalah penyakit non-fisik. Wabah penyakit akal, penyakit qolbu dan penyakit masyarakat sudah begitu kompleks eksistensinya. Diri kita senatiasa dilingkupi oleh penyakit/masalah diri dan lingkungan dimana pun kita berada. Namun dari semua jenis penyakit tadi pada akhirnya akan kembali kepada satu pertanyaan, yaitu bagaimana dengan diri kita ? jangan-jangan terjangkit juga tuh sama virus...

Karena hanyalah diri kitalah yang akan diEvaluasi atas perbuatan kita selama hidup ini, oleh Pencipta kita. Bukan bapak kita, bukan ibu kita, bukan teman dekat kita, ataupun oranglain disekitar kita.

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,
[74:38]

Ingat man....!!!

Setiap pendengaran, akan dimintai pertanggungjawabannya, setiap penglihatan, akan dimintai pertanggungjawabannya dan setiap hati akan dimintai pertanggungjawabannya.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
[17:36]

Masalahnya, saat diri sudah merasakan pendengaran kita sudah penuh dengan dosa / penyakit, penglihatan sudah sarat dengan visualisasi dosa/maksiat, begitupun hati ini sudah penuh dengan kecendrungan kepada kejahilan, apa tindakan kita?

Setidaknya kan ada beberapa tindakan yang cenderung dilakukan oleh manusia…

Merasa cukup nyaman, dan tidak ada kekhawatiran sedikitpun mengenai kekotoran diri. Bahkan merasa bahagia bergelimang dengan seluruh kebatilan yang ada. Sebisa mungkin memenuhi kepuasan diri, dan rela diperbudak oleh hawa nafsu. Wah serem banget tuh....

Ataukah bersikap apatis, cuek, seolah apa gunanya capek-capek memikirkan hal tersebut. Tidak begitu perduli apakah akal kita sedang sakit atau tidak, qolbu kita berpenyakit atau tidak, bahkan tidak begitu perduli apakah masyarakat kita berpenyakit atau tidak. Padahal setiap hari kita hidup dan berinteraksi didalamnya. Yaa perbaikan diadakan seperlunya saja. Jika itupun sedang mau, atau pun karena banyak teman. Jika tidak, yaa sesuai adanya saja….

Ataukah diri kita termasuk orang-orang yang bersegera kepada kebaikan… melakukan segala upaya perbaikan diri dan pembersihan diri ?

Apa itu Dosa / Maksiat

Dosa / maksiat, bukanlah sekedar pelanggaran aturan Islam didunia. Dosa / maksiat, bukan juga sekedar lalai dari melaksanakan Perintah Alloh dan sengaja melaksanakan apa-apa yang dilarangNya, tetapi dosa adalah segala sesuatu yang dengannya kita akan lebih kesulitan untuk mendapatkan hidayah. Ia adalah yang akan memberatkan lisan kita untuk bisa mengucapkan Laa ilaa ha illalloh diakhir kehidupan. Ia jua yang akan menyusahkan kita untuk bisa menjawab Free test dialam barzah yang dilakukan oleh para malaikat.

Dosa jugalah yang akan memberatkan timbangan kita kesebelah kiri, yang menyebabkan kita mendapatkan kitab catatan amal dengan tangan sebelah kiri. Sekaligus karena dosa-lah Alloh akan menyiksa kita dengan adzabnya yang keras, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat fir’aun, mereka adalah yang tidak mengakui, mendustakan ayat –ayat Alloh,

adalah sebagai keadaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.
[3:11]

Oleh sebab itu penyakit / dosa / maksiat ini adalah hal yang tidak boleh berlama-lama bersarang dalam diri kita. Ada baiknya kita mengetahui benar tentang hal – hal yang menyebabkan diri kita bermaksiat;
Sebab2 terjadi kemaksiatan

Pertama, adalah karena manusia mengikuti hawa Nafsunya yang buruk, ketika hawa nafsu mendominasi akal dan qolbu kita, maka yang terjadi adalah akal yang maksiat, qolbu yang maksiat, hingga membuahkan amal yang maksiat. Sebagimana kemaksiatan yang pernah terjadi pada diri Qobil ketika membunuh saudaranya Habil, karena mengikuti hawa nafsunya:

Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.
[3:50]
Inilah yang sering dijadikan alasan klasik setiap pelaku kejahatan, sedang gelap mata. Gelap tertutupi oleh Nafsu yang menyelimuti.

Hal yang kedua, yang menyebabkan orang mengikuti hawa Nafsunya adalah; mengikuti kebanyakan orang (Demokrasi). Suatu sikap, perbuatan yang dilakukan oleh mayoritas orang seringkali menjadi pembenaran pada perbuatan tersebut, padahal tetap saja salah.

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta .
[6:116]

Sebagai contoh saja homoseks menjadi suatu yang benar, legal, bahkan dianggap sebagai bagian dari HAM ketika kebanyakan orang mulai melakukan homoseks tersebut. Contoh ini terjadi pada kaum Sodom di zaman Nabi Luth. Bahkan sekitar 300 ribu kaum Gay + lesbi menuntut hak mereka di washington DC pada tahun 1993. Cekcek....bagaimana sekarang???

Sebab yang ketiga, latar belakang terjadinya dosa / kemaksiatan adalah; karena kebodohan / tidak memiliki ilmu. Kesalahan, pelanggaran adalah sangat mungkin terjadi pada orang-orang yang minim masalah ilmunya, sebagaimana yang diungkap didalam Al-Qur’an :

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki , sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[16:119]

Maka berisap-siap lah bagi kamu yang merasa minim tentang hal ilmu ini, ilmu yang menghantarkan kita kepada kehidupan yang benar, ilmu yang akan menyebabkan kita bisa selamat duniaa dan Akhirat, bakal memilki peluang berdosa ketimbang jika kamu rajin meniti ilmu, ya tentunya ilmu Islam dong...

Sebab yang keempat adalah mereka yang sangat mementingkan kenikmatan, kemewahan duniawi. Kemewahan menjadi suatu simbol kejayaan, kehormatan manusia. Dengannya ia merasa nyaman dan mulia diantara manusia-manusia yang lain. Hampir kebanyakan manusia tidak menolak jika mendapatkan kemewahan ini. Padahal dengan kemewahan, orang justru akan menjadi lebih berpeluang untuk menjadi sombong, lebih lalai bahkan berbuat kerusakan di sektor yang lain agar kemewahan pada dirinya langgeng.

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
[11:116]

Sodara, jika tadi kita mengurai tentang apa yang merupakan sebab-sebab kemaksiatan terjadi. Waspadalah terhadap pintu-pintu kemaksiaatan tersebut. Jangan sekali-kali dibiarkan terbuka. Kemudian adakah efek, akibat yang ditimbulkan oleh maksiat?

Akibat dari maksiat

Akibat yang bisa ditimbulkan memiliki dampak yang sangat fatal bagi setiap individu yang melakukannya, diantaranya:
  1. Akan menghalangi ilmu pengetahuan
  2. Akan menghalangi rezeki dari Alloh 
  3. Akan menggelapkan hati 
  4. Akan menghalangi dari ketaatan 
  5. Akan cenderung melakukan maksiat terus 
  6. Akan hina dihadapan Alloh 
  7. Akan merusak akal 
  8. Akan menutupi hati 
  9. Menghalangi syafaat dari Rosul dan Malaikat
Begitu banyak yang kerugian yang diderita ketika kita melakukan sebuah pelanggaran / maksiat / dosa.
Siapapun diri kita, pastilah tidak ada yang menginginkan mengalami kerugian-kerugian tersebut, bukan?
Nyaris tidak ada manusia yang sehat akalnya mau menjadi mahluk yang dibenci bahkan diazab Alloh.. bahkan bisa jadi dila’nat oleh mahluk-mahluk Alloh lainnya.

Saat nya berubah !!!

Tentunya diam bukanlah suatu solusi. Tetapi haruslah ada perbaikan. Perbaikan dari awal. Secepatnya!... yaitu sekarang!!

Bagaimanakah petunjuk, bimbingan menuju perubahan tersebut? petunjuk, bimbingan yang membuat Alloh memaafkan kita, sekaligus membersihkan masing-masing diri dari segala kejahilan yang pernah bersarang dalam diri.
Taubat sebagai solusi; obat dan media peningkatan diri.

Solusi yang diberikan Alloh kepada kita adalah dengan satu kata. Yaitu Taubat!
Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada Allah dan tulus ikhlas agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

So...., mau kapan lagi sobat???

ISLAM SATU-SATUNYA DOKTOR

Sodara Bersyukurlah kita jika sampai pada hari ini Alloh masih memberikan karunia kepada kita berupa fisik yang sehat. Otak kita masih bisa berfikir dengan jernih. Mata kita masih tajam dalam membedakan antara jauh-dekat, hitam-putih serta indahnya alam semesta ini. Begitupun dengan kaki,  buktinya kita masih bisa melangkahkan diri ketempat dimana kita bertujuan. Begitu pun dengan seluruh fungsi organ yang lainnya saat ini dan semoga seterusnya masih menempati fungsinya dengan baik. inilah yang disebut kondisi tubuh yang normal /sehat.

Namun bagaimanakah kiranya jika kita mengalami keadaan fisik yang tidak normal dari biasanya, yang sering kita sebut sebagi penyakit. Tentu menderita rasanya, bukan..?

Biasanya orang yang sedang sakit merasakan suatu  hal yang disebut dengan istilah penderitaan. Contoh; kamu mungkin pernah merasakan sakit gigi. Ketika sehat, gigi tersebut merupakan bagian mekanis pertama dari sistem pencernaan manusia. Seluruh makanan dari yang keras sampai dengan yang paling alot sekalipun dilumat habis oleh gigi kita. Setiap harinya kita menggunakan gigi ini kira-kira 3 kali untuk menggerus 3 piring makanan di tambah dengan cemilan lainnya. Berarti setahunnya gigi kita kira-kira telah menggerus makanan yang masuk kedalam mulut kita sekitar 1.095 piring makanan ditambah dengan seabreg makanan cemilan yang mungkin jumlahnya lebih banyak. Namun apa jadinya jika mengalami yang dinamakan sakit gigi. Jangankan satu piring, satu sendok saja masuk makanan kedalam mulut kita,  sakitnya bukan main. Gigi yang selama ini berjasa besar, saat itu tidak bisa berbuat banyak. Justru menimbulkan masalah.

Gara-gara gigi yang sakit, kepala ikut menjadi pening.hati tidak tenang, cenderung emosional. Wah pokoknya gawat deh..!
Sikap pertama yang biasanya diambil adalah berhenti dari memakan makanan yang membuat gigi menjadi sakit, hindari makanan yang banyak mengandung gula, dan sejenisnya.

Sikap kedua yang biasanya diambil adalah mencari obat atau datang ke dokter. Kemudian dengan sabar dilanjutkan dengan terapi pengobatan yang telah disarankan.

Sakit gigi baru satu dari sekian banyak sakit yang biasanya diderita oleh manusia. Padahal masih ada sakit flu, sakit mata, sakit perut hingga sakit hati. Begitu banyak diri kita dikelilingi oleh penyakit.

Dimulai dari Penyakit.

Apa itu penyakit

Penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan pada mahluk, atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau kelainan sistem jaringan pada organ tubuh mahluk hidup, atau sesuatu yang mendatanggkan keburukan[1]

Secara umum penyakit tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Ada banyak gangguan-gangguan yang membuat hidup ini menjadi tidak normal. Bagi orang-orang yang menyadarinya pastilah merasa tidak enak, menderita. Dan sesegera mungkin ingin sembuh. Percaya-gak percaya sebenarnya setiap diri kita terancam banyak sekali penyakit, atau jangan-jangan tanpa kita sadari, diri kamu sedang mengidap salah satu dari penyakit-penyakit tersebut.

Klasifikasi Penyakit

Setidaknya kita bisa mengklasifikasikan dalam hidup ini pada 2 kelompok besar penyakit. Pertama : penyakit Fisik. Kedua: penyakit non-Fisik.

Penyakit Fisik

Penyakit fisik, adalah penyakit yang selama ini  kita familiar mengenalnya. Merupakan seluruh gangguan kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau kelainan sistem jaringan pada pada organ tubuh mahluk hidup. Sifatnya menyerang organ-organ fisik. Biasanya temporari dan sebagian besar dapat dengan mudah ditemukan obatnya, atau mudahnya tinggal datang ke dokter yang bersangkutan.

Penyakit non-Fisik

Penyakit jenis kedua; penyakit non-Fisik. Tipe penyakit ini tidaklah menyerang fisik. Namun memiliki dampak yang sama terhadap kehidupan. Gangguan / ketidaknormalan. Bahkan penderitaan. Penyakit ini juga jumlahnya banyak. Namun masih dipertanyakan obatnya yang mujarab.

Penyakit non-fisik ini bisa kita klasifikasikan kedalam 3 kategori; yaitu :

Pertama; Penyakit akal




Penyakit akal, adalah kondisi akal yang tidak sebagaimana mestinya; setidak-tidaknya dalam paradigma dan isi. Akal ini tentunya diciptakan Alloh memiliki fungsi tertentu, tidak asal jadi. Akal yang sehat seharusnya bisa menyampaikan diri manusia kepada keimanan, bahkan taqwa dengan segala input dari indra yang diproses di akal.

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.
[10:110]



Allah menganugerahkan al hikmah  kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran .(2:269)

Akal yang sehat adalah akal yang bisa mengambil pelajaran, dan hikmah dan menuju kepada keimanan. Tentunya akal yang sehat juga bisa mengenali dengan baik tentang apa yang benar, apa yang salah, tahu prinsip apa yang harus dipegang. Apa saja yang bisa menyelamatkan dan apa saja yang bisa menjerumuskan. Akal yang sehat juga bisa mengenali siapa-siapa yang merupakan teman dan siapa musuh. Akal yang familiar dengan sinyal-siyal hidayah, akal yang akrab dengan qur’an. Setiap input dari kehidupannya senantiasa berbuah keimanan dan amal sholeh.

Sedangkan akal yang sakit / tidak sehat, adalah akal yang kesulitan, bahkan tidak bisa mengambil pelajaran, hikmah apalagi menuju kepada keimanan. Akal yang sakit, biasanya salah kaprah dalam mengenali apa yang benar, apa yang salah, salah kaprah dalam apa yang harus dipegang. Tidak peduli tentang apa menyelamatkan dan apa saja yang bisa menjerumuskan. Akal yang juga salah memposisikan tentang siapa-siapa yang merupakan teman dan siapa musuh. Akal yang familiar dengan sinyal-sinyal kemaksiatan, akal yang asing dengan Qur’an. Setiap input dari kehidupannya senantiasa berbuah dosa dan kemaksiatan.

Ke dua; Penyakit Qolbu

Penyakit non-fisik yang kedua adalah penyakit Qolbu. Biasanya Qolbu berpenyakit, gara-gara dimulai aqal yang berpenyakit. Salah persepsi, salah paradigma, menyebabkan salah juga dalam itiqod juga salah dalam niat. Akibatnya qolbu yang tidak terpelihara ini akan memiliki hasil yang negatif terhadap setiap input dari aqal. Dan keimanan tidak akan bisa tumbuh subur dalam lahan qolbu seperti ini. Setiap datang sinyal-sinyal hidayah tidak akan direspon sebagaimana mestinya.
Dan sesungguhnya dalam Al Qur'an ini Kami telah ulang-ulangi , agar mereka selalu ingat.  Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari .17:41



 Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan  dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
[36:10-11]
Dari ayat-ayat diatas jelas, bahwa ada orang-orang yang justru menghindari kebenaran. Dan mereka itu adalah orang yang kurang baik dalam mempergunakan akal mereka.

Ke Tiga; Penyakit Masyarakat / Sistem

Penyakit non-fisik yang ketiga adalah penyakit masyarakat, penyakit yang menjangkiti suatu komunitas, bukan secara individu. Biasanya penyakit tipe ini terbangun oleh individu-individu yang yang berpenyakit akal dan qolbunya. Bentuk dari penyakit ini biasanya berupa tatanan, mekanisme, sistem kehidupan bermasyarakat yang tidak benar. Masyarakat yang  membiarkan perzinahan terjadi. Sistem kehidupan yang menyelenggarakan bentuk-bentuk kegiatan pelanggaran syari’at, memfasilitasi maksiat dan menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal. Sistem kehidupan yang menyuruh kepada kemungkaran dan melarang keberadaan setiap aktivitas yang ma’ruf.

Contoh klasik dalam kisah-kisah Qur’an adalah masyarakat Fir’aun + pengikutnya di zaman N Musa, atau Namrudz+pengukitnya di Zaman N Ibrahim. Mereka merupakan sampel bentuk kehidupan, masyarakat tatanan, sistem hidup yang tidak normal berdasarkan Qur’an.



serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.
[8:52]

Islam sebagai terapi Akal

Sebagaimana yang telah kita urai tadi, Akal yang sehat adalah akal yang bisa mengambil pelajaran, hikmah dan menuju kepada keimanan. Akal yang bisa mengenali dengan baik tentang apa yang benar, apa yang salah, tahu prinsip yang harus dipegang. Apa saja yang bisa menyelamatkan dan apa saja yang bisa menjerumuskan. Akal yang sehat juga bisa mengenali siapa-siapa yang merupakan teman dan siapa musuh. Akal yang familiar dengan sinyal-siyal hidayah, akal yang akrab dengan Qur’an. Setiap input dari kehidupannya senantiasa berbuah keimanan dan amal sholeh.
 Semoga....!!!


Kamus besar bahasa Indonesia, hal 863[1]

Pemuda - Pemuda Muslimin Sebagai Pembawa Atmosphere Ilahi


Pemuda hari ini memimpin di masa depan. Potongan hadist tersebut mengisyaratkan banyak pesan yang begitu besar bagi pemuda di masa kini yang harus menjadi konsep bagi seorang pemuda muslim. Salah satu pesan yang tersirat adalah pentingnya untuk menyiapkan pemuda guna arah tujuan hidup masa depan. Darul Arqam salah satu tempat penggemblengan pemuda jaman Rasullulah saw perlu kita teladani kembali. Permasalahan pemuda bukan masalah yang mudah, tetapi sebuah masalah yang komplek yang perlu kajian secara menyeluruh.

Dari tangan-tangan mereka lah terbitnya fajar Islam. Bagaimna tidak pada waktu itu usia Rasullulah saw sendiri pun baru menginjak empat puluh tahun ketika beliau diangkat menjadi rasul. Sedangkan Abu Bakar pada waktu itu berusia tiga tahun lebih muda dari usia Nabi SAW. Bahkan Umar bin Khatab masih berusia 27 tahun, dan Ali Ra adalah oarng termuda dari keempat khalifah tersebut. Selain itu para pemuda yang digembleng Rasullulah saw juga para tokoh mujahid yang tangguh, seperti Abdullah bin Mas’ud, Abdul Rahman bin Auf, Al Arqam bin Al Arqam, Sa’id bin Zaid. Muhs’ab bin Umair, Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir dan puluhan bahkan ratusan pemuda lainnya.

Melihat pemuda muslim sekarang seaakan tersesat di dunia yang tidak bersahabat. Penuh pertentangan hingga sulit tetapkan arah tujuan. Hanya pemuda yang memiliki keimanan, keikhlasan, Tekad, dan Usaha yang kuat yang mampu hadang segala problematika di era ini. Landasan iman adalah jiwa yang suci. Landasan keikhlasan adalah hati yang jernih. Landasan tekad adalah semangat yang kuat membara. Landasan usaha ialah kemauan yang keras dan landasan pengorbanan adalah aqidah yang kokoh.

Berbeda ketika Islam berjaya di daerah seperti Syam, daratan Irak yang subur, Andalusia, mesir, Al Jazair, daratan Afrika, India, daratan Cina, dan seluruh jagat raya ini. Semua daerah tersebut mengandung kabar berita tentang nenek moyang kita yang gagah berani dan mulia. Daerah-daerah itu sarat akan nilai-nilai Iman dan Islam. Mereka telah menyerap ilmu pengetahuan di berbagai mesjid, entah itu Mekah, Madinah, Al Aqsha, Kordoba, Al Azhar, dan Umawi. Mereka menyimpan segudang kebanggan dan kemuliaan , ilmu, kebudayaan, tatanan nilai dan prinsip. Mereka telah membina mental spiritual umat. Mereka telah menyebarluaskan ilmu pengetahuan, melenyapkan simbol-simbol paganisme (kemusyrikan) serta menyemaikan benih-benih tauhid, keadilan, ukhuwah, dan persamaan.

Kejayaan Islam di tangan para pemuda muslim membuka efek yang begitu besar. Sehingga kemerdekaan bukan hanya kiasan ataupun isapan jempol tetapi hadir menjadi pemecah rantai perbudakan, berfikir terbuka guna tauhid yang mulia di saat akal pikiran terkungkung oleh tirai kemusyrikan. Banyak prestasi yang pernah diraih pemuda muslim meski sejarah barat tak mencatatnya. Tetapi semua itu hidup bukan hanya sebagai catatan saja melainkan menjadi tangga menuju Islam yang jaya. Kembali pada permasalahan pemuda muslim masa kini yang seakan kehilangan ‘pegangan’ menjadi PR besar bagi semua elemen masyarakat mulai dari lingkungan terkecil keluarga,sahabat, sekolah hingga pemerintah yang notabene negara muslim terbesar di dunia. Yang sangat miskin memberikan penanaman konsep-konsep seorang pemuda muslim. Lantas siapa yang harus bertanggungjawab?

Menyadari kesalahan adalah salah satu langkah untuk berubah. Bukan tuduh sana-sini yang pada akhirnya masalah utama tidak terselesaikan. Ataupun berdebat hingga esensinya tidak dikupas secara tuntas. Tidak semua pemuda muslim saat ini berada dalam kesesatan masih banyak pemuda muslim yang merintis kembali jalan kemuliaan meski dengan jumlah yang lebih sedikit. Tulisan ini merupakan representasi pengalaman, keprihatinan, dan harapan penulis mengenai nasib ”pemuda muslim”. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memberi label atau justifikasi pada satu institusi atau perseorangan, namun lebih pada sikap kritis terhadap fenomena yang telah penulis alami (secara riil) serta sebisa mungkin memberi alternatif pemecahan masalah. Hingga benarlah Islam sebagi Furqon.

Melihat salah satu tempat pergulatan pemuda yaitu sekolah, maka seharusnya sekolah mampu menjadi media pembelajaran keislaman, pengembangan diri pemuda muslim hingga memiliki pandangan Islam yang jernih. Seharusnya sekolah hadir sebagai orang tua kedua. Yang mampu mengayomi dan membimbing anak didiknya menuju kepribadian pemuda muslim yang tangguh. Dengan berbagai kegitan ekstrakulikuler yang mendukung seperti kegiatan kerohanian (ROHIS) sebuah wahana aktivitas pengembangan wawasan yang mengedepankan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut pandangan penulis maka kegiatan Rohis sebagai kegiatan ekstrakulikuler hukumnya “wajib” guna pembentukkan Akhlaq guna membaca ayat-ayat Kauniyah Allah swt yang tersebar di alam (dalam QS 41:53, 3:190). Bukan hanya kecerdasan intelektual saja yang utama. Tetapi kecerdasan secara spiritual pun sangat diperlukan guna pembentukkan Akhlaq dan tauhid yang kuat. Melalui berbagai macam pembinaan atau kaderisasi yang dihadirkan seperti training dan mentoring yang sinergis. Rohis sangat berperan sebagai inkubator pembelajaran dan pengembangan bagi pemuda muslim hingga mampu menjadi “agen da’wah” untuk diri dan lingkungannya. Hingga kecerdasan Akhlaq dan Tauhid mampu mengawal kecerdasan intelektual, emosional dan Spiritual menuju kecerdasan yang hakiki yang tentunya lebih Allah ridhai. Karena pemuda muslimin adalah satu-satunya tempat melabuhkan semua harapan. Pemuda Islamlah penentu kebangkitan dan eksistensinya.

Dalam kehidupan umat Islam, masjid mempunyai peranan penting dalam berbagai segi kehidupan, baik itu ruhani, keilmuan, pendidikan,maupun kemasyarakatan. Menurut ajaran Islam semua bumi adalah masjidnya ummat Islam , yaitu setiap muslim boleh melakukan shalat di sembarang tempat, kecuali di atas kuburan dan tempat yang bernajis.

Mesjid menjadi salah satu tempat penggemblengan niali-nilai Islam bagi seluruh bagian dari Islam terutama pemuda sebagai pemimpin masa depan. Perhatian Rasullulah saw dan para sahabatnya untuk mengajak anak-anaknya ke mesjid begitu besar. Mesjid sebagai media pengenalan da’wah adalah sebuah media yang sangat efektif dan memiliki pengaruh yang sangat besar. Mesjid hadir bukan sebagai tempat ritual keagamaan saja, melainkan mampu menjadi media penyambung umat tempat bertukarnya pemikiran, sehingga tidak heran pusat-pusat da’wah Islam dahulu berbasis di mesjid. Yang dimana memakmurkan mesjid pun mendapat pahala dan cinta kasih yang besar dari Allah dan selalu dalam petunjuknya seperti tersurat dalam QS At-Taubah 9:17-18.

Mesjid bisa menjadi indikator yang merefleksikan keimanan seseorang. Keteraturan dalam Shalat yang dilaksanakan di Mesjid banyak menyimpan cerita hikmah, mulai dari kerapatan shaf shalat yang melambangkan persamaan dan kekompakan dalam Islam hingga kegiatan lain yang memiliki banyak arti, semua itu menjadi pengaruh yang kuat bagi pembentukkan akhlak pemuda muslim.

Media pembelajaran bagi pemuda muslim bukan hanya dua tempat yang disebutkan di atas saja, melainkan masih banyak media lain yang mampu mengembangkan kepribadian pemuda muslim guna penyelamatan aqidah dan akhlaqnya. Janji Allah pasti akan terwujud, bahwa Islam akan kembali berjaya. Maka seperti yang dikatakan oleh Hasan Al-Banna bahwa “Umat harus bangkit. Namun aset umat ini untuk kembali bangkit telah terkuras habis, kecuali satu : itulah pemuda.” Ya, inilah saatnya bagi kita untuk bangkit, untuk senantiasa berada dalam garis keseimbangan antara amal, akal, dan ruhiyah .

Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun. Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa, maka dengan ketauladan beliau lah kita jadikan batu pijakan. Ketauladanan beliau dalam masalah pemuda begitu banyak, sehingga tidak ada lagi alasan kita untuk tidak mengikuti langkahnya.

Pilihan kini berada ditangan kita, untuk menjadi umat pengganti atau yang tergantikan. Waktu akan terus bergerak baik kita diam ataupun beraktifitas. Hari ini kita pemuda besok jadi pemimpin dan lusa menyatu dengan tanah. Hingga penulis (PB-Pemuda Muslimin Indonesia) berpesan untuk diri dan seluruh pemuda muslim hadapilah hidup ini dengan keimanan dan ketabahan, jangan takut, jangan menyerah karena sesungguhnya Allah swt menyertaimu.. Allahu Akbar....

Sepucuk Surat Buat Sodaraku, di Penjara Kesulitan....!!!


“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang”
Demi masa “Semua manusia dalam keadaan rugi” kecuali mereka yang secara pribadi terus menerus memelihara dan meningkatkan iman dan tidak henti-hentinya bergerak setahap demi setahap menata bangunan perjuangan hingga Islam tegak itulah Amal sholehnya, secara social mereka senantiasa berupaya memiliki etos kerja perjuangan yang kuat, hanya satu yang dipikirkan Yaitu tegaknya Islam sebagai system hidup yang UNVERSAL atau mati dalam keadaan SYUHADA!!!!!

Menengok kebelakang untuk melangkah kedepan, mencari kerumitan dimasa lalu untuk mendapatkan kejelasan bekerja hari ini, dan merencsayakan pekerjaan masa akan datang, mengevaluasi kesalahan yang telah diperbuat untuk berbuat kebenaran, mengurai benang kusut perjalsayan kehidupan untuk menenun benang supaya menjadi pakaian yang menyelamatkan kebutuhan hidup, bukan hendak membuat nasi menjadi bubur tetapi agar kita waspada, hati-hati dan teliti untuk tetap membuat nasi menjadi nasi.

            Dulu, kini dan masa akan datang adalah pragmen waktu tanpa pembatas, tak ada sekat ataupun hijab, tak ada jurang atau penghalang yang memisahkan, dulu, kini dan masa yang akan datang adalah hitungan perjalsayan.

            Ingatlah saat dimsaya waktu itu kita secara munfarid menginjakan kaki diatas sajadah, saat tangan menengadah dan lisan mengucapkan Takbiratul Ikhram, saat Hati meniatkan, menyengajakan untuk menghadap kepada Alloh, saat seluruh diri tak membawa masa lalu hanya khusyu untuk Sholat Fardhu. Dan ingatlah saat lisan bermonon “ Ihdinash-Shirotol Mustaqiem” Ya Alloh tunjukilah diri ini untuk hidup pada jalan yang lurus, jalan dari kelompok manusia yang diberi Nikmat oleh-Mu, bukan jalan dari kelompok manusia yang dimukai oleh-Mu, dan bukan pula jalan kelompok manusia yang telah sesat dengan kesesatan yang jauh dari-Mu, ingatlah bahwa kita telah memintanya, bermohon dan berdo’a untuk dikabulkan dengan ucapan, Amiin……………!!!!!!!!!!!!

Sodara………..!

Kemarin tanggal 17 Januari 2012 sampailah kamu pada puncak ujian terberat yang mungkin belum pernah kamu rasakan sebelumnya, yang hampir-hampir menggoyahkan Iman di dalam dadamu. Sodara kalau boleh saya sebagai temanmu atau saudara seAgama memberi saran, saya akan memberi saran, mari kita jadikan moment UJIAN ini sebagai ajang mengevaluai diri, siapa diri kita dihadapan Alloh? Apa sebetulnya Tugas, Fungsi dan Peran kita sebagai Manusia? Kontribusi/Pengorbsayan apa yang telah kita/Sodara berikan untuk tegaknya Dienul Islam? benarkah kita itu seorang Mu,min Muslim yang Mujahid atau hanya sebagai pecundang yang menginginkan surga tanpa mau berjuang??? Memang berjuang itu cape, penuh resiko, penuh tantangan, halang rintang, godaan, deelel, tapi inilah jalan kita, jalan yang harus ditempuh sampai syahid menjemput kita atau hidup mulia nan barokah dibawah panji Dien Islam yang rahmatan lil ‘alamiin.

SODARA JADILAH AKTOR BUKAN PENONTON….!
IKUTILAH JAMAN, YANG BERGERAK SECEPAT KITAT!
KEJARLAH WAKTU, JANGANLAH BIARKAN WAKTU MENGEJARMU!
GUNAKAN TIAP SAAT DAN DETIK UNTUK MENUNAIKAN JIHAD FISABILILLAH!
JIHAD PADA JALAN ALLOH, JIHAD MENEGAKKAN KALIMATILLAH!
DALAM BENTUK DAN SIFAT APA DAN MSAYAPUN!
MAJU MELANGKAH TUK BERJUANG
BERKORBAN HARTA DAN JIWA TUK MENATAP MASA DEPAN!
MARILAH BEKERJA TAK SEKEDAR KATA
LIHATLAH REALITAS………….!
KARENA ALLOH TIDAK AKAN MERUBAH NASIB SUATU KAUM SEBELUM KAUM ITU BERUSAHA TUK MELAKUKAN PERUBAHAN!
INGAT! ISLAM PASTI TEGAK KEMBALI! YAKINI ITU!!!
OLEH SIAPA??? SODARALAH YANG HARUS MENJAWABNYA!!
SODARA JADILAH PEMENANG BUKAN PECUNDANG…!!!
JIHAD TAK PERNAH TERTIDUR, PERJUANGAN TAK PERNAH MATI.

Berani mencoba dan tidak takut gagal adalah sebuah keMENANGAN!
Belajar dari ujian atau kegagalan adalah suatu kebijakssayaan!
Tidak ada apapun didunia yang bisa menggantikan kegigihan berjuang!
PEMENANG keluar mengambil resiko dan membuat banyak hal terjadi!
PEMENANG bisa menerima keadaan minus dan menjadikannya plus!
Mata mereka selalu terbuka terhadap kesempatan kreatif untuk pertumbuhan yang bisa diberikan oleh situasi negative!
Kegagalan memberikan kepada PEMENANG kesempatan untuk mempelajari cara-cara yang salah!
Seorang PEMENANG tidak pernah berhenti berusaha, dan itu benar!
PEMENANG yang sesungguhnya tidak pernah duduk ongkang-ongkang kaki didataran tinggi---mereka selalu mendaki lebih tinggi lagi!

SODARA…….!

Sesuatu yang besar selalu diawali dari langkah yang kecil! Karena tidak sedikit sesuatu yang besar rusak dan ambruk oleh sesuatu yang kecil, mencoba, melangkah, mencoba, melangkah dan mencoba serta melangkah terus!

Ingat….! Jangan lengah, langkah tak selalu mudah, berjuang perlu pengorbsayan.
Ingatkah sodara pada puisi yang pernah kit abaca bersam??? Ya, yang ini………..!!!

RINTANGAN YANG RAMAH.
Untuk setiap bukit yang harus kudaki!
Untuk setiap batu yang melecetkan kakiku,
Untuk semua darah dan keringatku
Untuk badai yang membutakan dan psayas yang membakar,
Hatiku harus mengucapkan SYUKUR—
Ini semua adalah hal yang membuatku kuat!
Untuk semua sakit dan air mata,
Untuk semua penderitaan dan rasa nyeri,
Untuk hari-hari yang muram dan tahun-tahun yang kelam,
Untuk pengharapan yang dihayati sia-sia,
Aku mengucapkan TAHMID,
Sekarang aku tahu ini adalah hal yang membuatku tumbuh!
Bukanlah hal-hal yang lunak dalam kehidupan,
Yang merangsang kemauan untuk berjuang,
Tapi kesudahan dan penderitaan yang gersang, berbuat paling banyak untuk menjaga kehendak kita tetap hidup.
Diatas jalan setapak bertabur mawar orang yang lemah merayap,
Tetapi hati yang tabah berani mendaki tebing.

Sodara….!!!

Demi Alloh, demi semuanya mulai hari ini engkau harus bangkit dari keterpurukan ini, Insya Alloh atas bimbingan-Nya engkau pasti bisa melewati semua ini, jangan biarkan setan menguasai dirimu, jadilah seperti yang diharapkan oleh Tuhanmu….

Nikmati Berislam, Bukan Mendiskusikannya

SUNGGUH banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kisah panggung kehidupan ini. Silih bergantinya waktu dari jam ke hari, memberi pendidikan kepada manusia, agar mereka bisa melangkah dengan bijaksana, hati-hati dan penuh kendali. Supaya manusia bisa memilih jalan mana yang mengantarnya kepada keselamatan, dan mana jalan yang menyesatkan. Mereka yang bisa memetik setiap 'kisah hidup', mengambil yang baik, dan menepis yang buruk akan menjadi orang yang memiliki nilai, memiliki arti sebagai manusia yang hakiki. Identitasnya sebagai manusia akan jelas dengan nilai-nilai yang membedakan dari makluk Tuhan lainnya.

Pada intinya, kehidupan ini adalah suatu perjalanan untuk mewujudkan dan menegakkan nilai-nilai itu. Sebagai orang yang beriman,kaum muslimin, nilai-nilai yang ingin kita tegakkan adalah nilai kebenaran yang termaktub di dalam kitab suci al-Quran dan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam. Nilai itu tumbuh sebagai buah dari keimanan. Ibadah yang kita pupuk setiap hari akan menghasilkan buah keimanan itu.

Bila amal ibadah yang kita lakukan selama ini belum menghasilkan buah iman berarti ada yang perlu dibenahi dan diteliti ulang. Mengapa ibadah menjadi mandul. Mengapa komunikasi dengan Tuhan tidak membuahkan manfaat? Sekali lagi mungkin masih ada yang keliru.

Iman yang benar akan melahirkan dan memunculkan kekuatan. Dan kekuatan yang dimunculkan oleh jiwa yang beriman tidak lain adalah kekuatan kebenaran. Kekuatan ini adalah kekatan yang paling besar nilainya. Mulia. Maka, bagi siapa yang bersama-sama dengannya maka iapun akan menjadi mulia dan terangkat derajatnya. Kekuatan kebenaran ini sifatnya kekal dan tidak mudah rapuh oleh berbagai terpaan kehidupan itu sendiri. Ia tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

Yang akan rapuh adalah sang pembawa kebenaran itu sendiri. Para ustazd, para kiai, para ulama. Jasad-jasad mereka sirna ditelan bumi. Sedangkan kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat hakiki al hakku mirrabikum, sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan yang Maha Mulia, keberadaannya tetap ada dan langgeng.

Allah berfirman dalam Surat Yunus:32 

“Maka (Zat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?.”

Dua Kecenderungan

Kebenaran yang hakiki tidak mau kompromi dengan kejahatan. Keduanya ada jarak, ada pembeda (furqon). Masing-masing memiliki kecenderungan sendiri-sendiri. Kecenderungan yang di bawa oleh kebenaran adalah kebaikan, kemaslahatan, kemuliaan, keindahan dan kemajuan. Sedang kecenderungan yang dimiliki oleh kejahatan adalah keburukan, kedurjanaan, kerusakan, kehinaan, kejelekan dan kemerosotan. Masing-masing sifat itu saling bertolak belakang dan bertentangan satu sama lain.

Para pembawa risalah tidak usah gegabah dengan menempati ruang pada satu sisi, kemudian mengambil posisi lain, pada waktu yang lain. Kita tidak perlu tampil dengan dua wajah. Apapun alasannya; seperti menyesuaikan kondisi zaman, biar fleksibel, supaya lebih dinamis dan sebagainya. 

Mencampur adukan antara yang hak dengan yang batil hanya membuat “derajat” kebatilan semakin terangkat. Ibarat secawan susu yang ternoda oleh setetas nila. Nilai kebenaran justru tertimbun oleh pengaruh buruk kebatilan tersebut.

Terpeleset arti 'toleransi'

Manusia sering mudah tergelincir oleh sebuah kata yang sederhana: toleransi. Toleransi sering menyeret orang bersikap longgar terhadap hukum-hukum yang telah Allah Subhanahu wa-ta'ala tetapkan. Biasanya 'makhluk' tolerensi memiliki segudang argumentasi untuk melegalisir sikap yang semula tegas menjadi samar, halal menjadi haram, boleh menjadi tidak atau sebaliknya. Karena lebarnya toleransi inilah, sering kita saksikan rontoknya kegiatan dakwah para da’i, muballigh, kiai, para pemimpin yayasan-yayasan Islam, tokoh Islam ke dalam jurang kehancuran.
Hukum hijab yang semula ketat menjadi longgar, bersalaman dengan wanita yang bukan mahram yang selama ini bagian perbuatan yang dicaci makinya habis-bahisan, menjadi biasa dilakukan. Perintah memelihara anak yatim dan memuliakannya bergesar menjadi sebaliknya, menyia-nyiakan dan menelantarkannya. Silaturrahmi yang semula digencarkan menjadi menipis, semakin menipis dan akhirnya hilang sama sekali. 

Membaca al-Qur’an, menegakkan qiyamul lail, memberi perhatian khusus terhadap kaum dhuafa sudah semakin jauh dari jadual. Padahal hal-hal tersebut termasuk kategori perhatian yang sangat utama dulu-dulunya.

Ada banyak alasan yang bisa dikemukakan. Semuanya rasional dan bisa diterima dalam kerangka berpikir logika. Diantaranya adalah efisiensi dan efektifitas waktu, mengapa harus di tuntun-tuntun bukankah semua seduah dewasa?

Tapi berbarengan dengan itu sebenarnya telah semakin menjauh dari rel cita-cita. Setiap langkah program yang dilakukan tidak malah menghasilkan kekuatan akan tetapi malah menukik ke jurang kehancuran.

Gedung dibangun, organisasi diperbesar, personil diperlebar dan disebar ke berbagai pusat kekuasaan agar langkah-langkah tersebut dapat mendongkrak menuju ke cita-cita dengan lebih cepat. Tapi pada kenyataannya? Yang muncul adalah kekeringan jiwa, kegersangan ruhani. 

Islam dan segala kemuliaannya hanya tinggal pada slogan-slogan. Keasyikan merasakan tambahan derajat ketika mengamalkan satu demi satu ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam berganti dengan kepuasan dan kebahagiaan semu yang diperoleh dari target-target bendawi. 

Ayat berubah menjadi alat, anak yatim menjadi batu loncatan penyelamat mencari harta dan keuntungan, silaturrahmi yang semula dipenuhi jiwa ketulusan sudah mulai ada target untung rugi, demikian juga dengan membaca al-Qur’an dan qiyamul lail (shalat malam), akan dilakukan bila semua itu menguntungkan. Kalau tidak sebaiknya ditangguhkan dengan berbagai macam tinjauan.

Akhirnya syetan benar-benar masuk dan mengobrak abrik semua harapan dan cita-cita.Kekuatan dan pamor yang dimiliki dan selalu dibangun sekian lama runtuh dan rontok oleh karena kelonggaran yang direkayasa oleh syetan laknatullah alaihi tersebut. Syetan telah bekerja dengan ekstra halusnya pada kelompok yang merasa dirinya sebagai bagian dari yang ingin berjuang dan berjihad fii sabilillah.

Allah Subhanahu wa-ta'ala mengisyaratkan kehidupan mereka sebagai kelompok manusia yang hidupnya sia-sia. Allah berfirman;

"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. 18:104)

Alasan toleransi telah menjadikan manusia kehilangan apinya Islam, roh Islam dan kekuatan besar yang terkandung dalam jiwa iman. Fungsi kontrol(amar makruf nahi munkar) menjadi lenyap. Akhirnya hilanglah kekuatan. Benteng pertahanan menjadi lemah. Jiwa jihad menjadi kendor bagai kekurangan darah.

Lebih terpuruk bila toleransi atau kelonggaran-kelonggaran itu telah begitu jauhnya. Sehingga tanpa disadarinya telah berbelok dari misi suci, bermesra-mesraan dan berdampingan dengan kebatilan, kemungkaran dan bergandengan dengan penguasaQjuga yang selama ini menjadi ajang gunjingannya sebagai agen kezhaliman dan penindasan. Kelonggaran-kelonggaran terhadap hukum Allah terus menyeret para penegak kebenaran tenggelam bersama mereka yang selama ini memusuhinya. Mengapa terjadi? Karena telah terjadi pergeseran nilai itu.

Islam dan ajarannya tidak lagi dinikmati secara penuh. Wahyu dan nilai-nilai yang mengandung kekuatan doktrin Ilahi tidak lagi menggerakkan jiwa raganya untuk tampil menghadapi kehidupan, dengan semangat jiwa Islam. Bahkan Islam yang Indah, hanya hanya diperindah lewat kata-kata, cerita-cerita dan aneka diskusi yang tiada bertepi di meja makan. Yang akhirnya nilai Islam makin melebar keluar dari substansi yang sesungguhnya. Budaya silaturahmi tak akan berarti jika hanya ditulis dan diskusikan. Nikmatnya hanya benar-benar terasa indah, jika dipraktikkan. Saling berkunjung kepada saudara, tetangga dan sahabat. Saling memberi hadiah, cepat datang ketika ada saudara, tetangga dan sahabatnya yang sakit adalah nilai-nilai Islam yang hanya indah dan terasa jika dipraktikkan. 

Taat pada suami, sayang dan perhatian kepada istri, baik melalui perkataan dan perbuatan juga hanya terasa indah dan nikmat jika dipraktikkan. Bukan diwacanakan layaknya kaum feminis dan orang Barat yang tidak suka kehadiran agama. Begitu juga syariat Islam yang diperintahkan kepada kita. Semua syariat seolah hanya akan membelengu kita, jika perintah-perintah itu tidak segera kita rasakan dahulu. Mariberkhusnudzon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, lalu rasakan mengapa Allah memerintahkan semua aturan ini kepada kita. Dengan begitu, nikmat berislam ini baru akan terasa maknanya. 

Nah, tak ada salahnya bila kita memulai merasakan nikmat Islam secara sesungguhnya.

Red: Cholis Akbar 

Sumber: Hidayatullah.com