Pemuda-Pemudi Harapan Islam


Tika, sebut saja begitu. Tampilannya oke juga. Begitu kata orang-orang. Maklum, doi blesteran punya. Ayah Singapur, Ibu Singecet. Upss.. itu sih kerja bakti bebenah rumah atuh ya? Itu bahasa Jawa yang artinya; ayah yang ngapur, ibu yang ngecat. He..he..he..

Yup, Tika dijuluki sama teman sekelasnya sebagai si gadis seksi. Kalo mau dibandingin sama Norah Jones? Ya, kira-kira setingkat di bawah penyanyi yang ngetop via tembang Dont Know Why itu lah. Waduh, pantesan tuh gerombolannya Rudy pada ijo matanya kalo Tika lewat di hadapan mereka.

Tika, adalah gadis muslimah. Tapi, kayaknya doi masih doyan hidup bebas sesuka hatinya. Agama, menurutnya cuma urusan sholat, zakat, dan puasa. Paling banter Islam yang doi kenal adalah pas perayaan Maulid, Isra Miraj, dan juga lebaran. Selain itu, doi nggak ngeh soal Islam. Kasihan banget ya?

Sobat muda muslim, Tika juga punya teman main lho. Namanya, Rangga. Tapi sumpah, ini bukan Rangga si mata elang di film A2DC? Kebetulan aja memang namanya sama. Oya, Rangga-nya Tika ini mirip-mirip Justin Timberlake yang pernah punya skandal sama Britney Spears. Maklumlah seleb, full skandal. Duh, kok mirip seleb semua ya? Tak usah heran, dua anak ini emang indo. Seperti kebanyakan bintang muda di sinetron kita; Roger Danuarta, Indra L Brugman, Nicolas Saputra, dan teman satu spesies lainnya.

Tika dan Rangga akrab banget. Sampe-sampe sulit dipisahkan antara keduanya. Di mana ada Tika, di situ ada Rangga. Anehnya, meski menyandang gelar anak sekolah, tapi mereka sama sekali nggak mood belajar. Sebaliknya, justru malah jadi aktivis ngeceng di mal, atau sekadar larak-lirik adik kelas pas waktu istirahat atau olahraga. Siapa tahu mau temenan sama orang beken (idih, maunya).

Teman remaja, sedihnya lagi, remaja muslim dan muslimah yang menjalani kehidupan begitu jumlahnya bejibun banget, lho.

Nggak di kota, nggak di desa. Teman remaja yang nyablak bin amburadul kelakuannya sangat mudah kita jumpai. Ada yang kuat pacarannya, ada yang sok jagoan dengan menjadi aktivis tawuran, termasuk banyak juga yang hura-hura alias binatang pesta, nggak ketinggalan teman remaja yang tampangnya kalem, tapi bandelnya minta maaf.

Oya, ada juga lho yang kayaknya pengen kelihatan islamnya. Misalnya, teman remaja puteri banyak yang udah mau pake kerudung. Yang cowoknya juga mulai seneng melihara jenggot dan pake baju koko. Tapi, maaf-maaf saja, itu nggak dibarengi dengan ilmu agama yang cukup. Jadinya, yang puteri juga pake kudung gaul, yang cowoknya juga masih liar. Jenggot sih boleh, tapi kelakuannya sebelas-duabelas, alias sodaraan ama Daron Malakian, John Dolmayan, Shavo Odadjian, dan Serj Tankian yang tergabung dalam SOAD (System of A Down). Itu tuh, grup band pujaan anak sekarang yang ngetop lewat tembang Toxicity dan Chop Suey. Wis, pokoke komplit tipe remaja muslim kita ini.

Sobat muda muslim, tipe remaja yang tadi disebutkan adalah contoh amburadulnya sebagian besar remaja Islam. Padahal, merekalah yang seharusnya menjadi tumpuan harapan Islam. Tapi apa mau dikata, wong di antara kita udah banyak yang begitu. Terus, kudu seperti apa sih pemuda-pemudi harapan Islam itu?

Ahli pikir dong!

Tampilannya sih boleh aja rapi jali. Tapi kudu dibarengi dengan pemikiran yang oke juga dong. Malu atuh, kalo ada remaja Islam yang nggak tahu bagaimana caranya sholat. Konyol juga kalo masih nanyain gimana caranya wudhu. Tapi beginilah realita yang kayaknya pantas juga bagi kita untuk prihatin. Betapa banyak teman remaja yang nggak mengisi otaknya dengan pemikiran Islam yang mantap. Maklum, rata-rata remaja sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat hiburan, atau sekadar mengisi waktu luang dengan pembicaraan yang miskin makna.

Sobat muda muslim, tradisi para sahabat, kaum muslimin generasi pertama, adalah banyak berpikir. Sebab, kalo kita jadi ahli pikir, insya Allah bisa menjalani hidup ini dengan benar. Saking pentingnya aktivitas berpikir ini, para sahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir. (dalam kitab Ad-Durrul Mantsur, jilid II, hlm. 409).

Memang sih, aktivitas berpikir saat ini sangat langka dilakukan anak muda. Jangankan anak muda, wong tuo aja udah pada males mengoptimalkan peran otaknya. Padahal kalo otak kita digunakan, itu sama dengan mengasah pedang, akan kian tajam. Justru kalo otak dibiarin nganggur, alias nggak pernah diajak untuk mikir, apalagi mikir yang berat-berat, Insya Allah, dijamin bakalan tumpul binti beku.

Aduh, sayang banget lho. Padahal, tentu saja, kemampuan otak kita bisa deh diaduin sama produk keluaran intel, pentium 4. Prosesor ini sebenarnya masih kalah jauh dengan kemampuan otak kita, sebab Allah Swt. menciptakannya untuk bisa berpikir dan menganalisa dengan mantap. Entah berapa juta giga, space yang Allah berikan untuk otak kita. Inilah pemberian Allah yang kudu kita syukuri. Itu sebabnya, sungguh hueran jika masih ada manusia yang ogah untuk memanfaatkan kinerja otak dengan optimal. Utamanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan Islam dan kehidupan ini.

Kita seharusnya ngiri juga lho, sama Imam Syafii yang pada usia 7 tahun udah hapal al-Quran 30 juz. Insya Allah, itu adalah contoh bagaimana membiasakan otak kita bekerja keras. Makin sering digunakan, otak kita makin oke. Para sahabat Rasulullah, utamanya yang termasuk khulafa ar-Rasyiddin, semuanya mujtahid mutlaq. Artinya, Abu Bakar ra, Umar bin Khaththab ra, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah orang-orang yang ahli pikir, alias mufakkir.

Ahli ibadah euy!

Nah, pemuda dan pemudi Islam kudu memposisikan diri sebagai ahli ibadah (muta-abid). Dan memang kalo udah ahli pikir, kemungkinan besar, kalo nggak mau menyebut pasti, biasanya juga ahli ibadah.

Dalam kitab Taqarrub ila Allah, karangan Fauziy Sanqarth terdapat sebuah pernyataan dari salah seorang pemimpin Islam ketika menggambarkan kader-kadernya. Seperti ditulis dalam kitab itu, salah seorang pemimpin Islam yang dimaksud mengatakan bahwa, “Sebaik-baik pemuda adalah yang bersikap sebagai orang tua, bisa memejamkan matanya dari kejahatan; berat langkah kakinya menuju kebathilan; demi beribadah ia khusyu dan betah begadang semalaman. Sungguh Allah melihat mereka pada malam hari ketika punggung-punggung mereka condong kepada juz al-Quran. Setiap kali salah seorang dari mereka membaca ayat tentang surga, mereka menangis karena rindu kepadanya. Ketika membaca ayat tentang neraka, mereka benar-benar histeris seakan-akan bencana neraka jahannam itu ada di antara kedua telinga mereka.
Sobat muda muslim, sekadar sebuah pertanyaan, dan jawabannya cukup kamu sendiri yang tahu. Jujur saja pada diri kamu sendiri. Pertanyaan kita sederhana saja; bagaimana dengan sholat kamu? Pengennya kita sih, moga saja nggak bolong-bolong ya?

Bagaimana dengan puasa kamu? Harapan kita, kamu juga getol puasa sunah Senin-Kamis. Apalagi mau deket ramadhan, jangan lupa puasa ramadhan pol sebulan penuh. Wajib lho.

Bagaimana dengan baca al-Quran? Wah, kepengen kita sih kamu bisa menyempatkan diri baca tiap hari, meski cuma sepuluh ayat sekalipun. Tul nggak? Jadi, biasakan deh.

Terus, bagaimana dengan shalat malam kamu? Hmm.. sekali lagi, harapan kita nih, kamu lebih sering untuk melakukannya. Amalan sunah ini sebagai tambahan pahala ibadahmu. Firman Allah Swt.:

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS al-Isra:[17]: 79)

Oya, bagaimana pula dengan shadaqoh kamu? Moga aja nggak sayang menyisihkan uang seribu atau dua ribu rupiah ke keropak masjid ya? Soalnya, adakalanya uang dua puluh ribu rupiah bisa dengan mudah langsung menguap kalo kamu jajan di resto sekelas McD or KFC. Bebas aja ngasih uang ke resto Amrik itu. Kalo ke masjid, naga-naganya sih masih nimbang untung-rugi. Duh, jangan sampe deh!

Oya, kamu perlu tahu, apa sih arti ibadah? Sobat, ibadah (al-Ibaadah) secara bahasa adalah (ath-Thaaah) taat (Kamus al-Muhiith, oleh Fairz Abdiy, bab tentang ibadah). Sedangkan menurut istilah (makna hukum), aIbaadah memiliki dua makna, yaitu secara umum dan secara khusus. Makna al ibaadah secara umum, yaitu ketaatan kepada perintah-perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Dalil dalam masalah ini adalah:

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (TQS. adz-Dzariyat [51]: 56)

Adapun makna khusus dari al-Ibaadah adalah segala?آ bentuk perintah dan larangan hukum syara yang mengatur hubungan seorang muslim dengan Rabb-nya, yaitu apa-apa yang disebutkan oleh fuqaha sebagi ibadah seperti shalat, zakat, haji, puasa, dan jihad. Dalam hal ini, maka yang kita maksudkan sebagai ibadah hanyalah dalam maknanya yang?آ  khusus saja.

Kita berdoa, moga kamu dan kita juga tentunya, jadi ahli ibadah. Amin,…..

I am The Winner

Seorang pecundang akan berkata “Ini mungkin, tapi sulit” sedangkan seorang pemenang akan berkata “Ini sulit, tapi mungkin” 

Sekarang kita tinggal memilih, kita akan menjadi siapa? Seorang pecundang atau seorang pemenang? Seorang pecundang yang hanya dengan melihat saja sudah menyerah, pasang kuda – kuda dan dalam hitungan ketiga lari menjauh. Seorang pecundang yang patah semangat, hilang kepercayaan diri, takut, dan percaya bahwa apa yang dilakukan akan percuma saja bahkan gatot (gagal total). Ataukah seorang pemenang, seorang pemenang yang percaya bahwa dia akan berhasil, dengan semangat, usaha, kerja keras, dan do’a dia percaya mampu menaklukkan dunia. Selanjutnya? Terserah anda! 

Saya yakin bahwa semua akan memilih menjadi seorang pemenang, karena memilih menjadi pemenang atau pecundang tidak sulit, sangat mudah hanya dengan memilih. Namun dalam pelaksanaan sulit untuk diterapkan. 

Hidup adalah sumber masalah, pertempuran atau bahakan medan perang yang tidak akan pernah berhenti. Sejak kita lahir hingga membaca tulisan ini, semuanya pertempuran. Pertempuran melawan ketidakmampuan, ketidakberdayaan, dan juga pertempuran melawan ketidak maha tahuan kita. 

Kita tercipta menjadi seorang pemenang sayangnya kita sendiri menjadikan diri kita seorang pecundang. Bagaimana tidak waktu kita kecil kita tidak mampu berbuat apa – apa, yang bisa kita lakukan hanya menangis. Lihatlah diri kita sekarang, kita bisa berjalan bahkan berlari, kita bisa makan bahkan membuat makanan, kita bisa berbicara bahkan bernyanyi. Coba banyangkan apa yang akan terjadi apabila sejak kita terlahir kita menjadi seorang pecundang yang takut belajar berjalan karena takut jatuh, yang takut makan sendiri karena takut belepotan dan ketakutan – ketakutan yang lain. Mungkin manusia akan punah karena tak mampu berbuat apa – apa. 

Apabila kita tercipta menjadi seorang pemenang, mengapa kita rubah diri kita menjadi seorang pecundang. Pecundang yang mencari kambing hitam atas kesalahannya, pecundang yang bila diberi penghalang akan berbalik arah, pecundang yang selalu mencari jalan pintas atas semua kesulitan, pecundang yang ingin sukses tanpa kerja keras dan pecundang yang selalu menunggu keajaiban turun dari langit. 

Salah satu rintangan terbesar bagi kita saat ini adalah ketidakberdayaannya ummat Islam atas dominasi para perebut kekuasaan Alloh, mereka menghalangi, merintangi setiap siapa saja yang ingin melaksanakan tugas sucinya sebagai hama Alloh, mereka tidak segan-segan mengatakan permusuhan yang di barengi dengan adanya upaya penghancuraan kepada siapa saja yang hendak menjalankan Agamanya, mungkin mereka lupa di dalam UU 45 yang mereka buat sendiri tepatnya di BAB XI pasal 29 “ Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” namun sepertinya UU ini bagi ummat Islam setengah berlaku setengah tidak…weleh weleh, memang begitulah kenyataannya

Ingat kawan! Secara nasional “penjajahan pisik” kita sudah merdeka, tapi sebagai ummat Islam kita belum Merdeka. Yakini itu…. 

Mungkin sekaranglah saatnya kita menentukan menjadi siapakah kita? Seorang pecundang atau menjadi seorang pemenang? Pemenang yang dengan sepenuh hati percaya bahwa dia akan menang, pemenang yang sadar bahwa keajaiban tidak datang dengan sendirinya melainkan dengan usaha dan kerja keras, pemenang yang tidak akan berbalik arah hanya karena ada penghalang didepannya, pemenang yang tidak akan bingung tuk mencari jalan pintas karena dia tahu dia berada di jalan yang benar, pemenang yang selalu menambah bekalnya untuk menemani perjalanannya, dan pemenang yang tidak akan membohongi diri sendiri dan orang lain tuk berbuat curang. 

Jika kita memilih menjadi pemenang, masih ada waktu tuk menyiapkan semua bekal, masih ada waktu tuk menyingkirkan semua rintangan, masih ada waktu tuk mengubah pikiran kita terutama tentang apa yang kita pikirkan tentang diri dan Bangsa kita…. 

Tampilah ke muka kawan, lawan dengan kekuatan atau lisanmu, tidak selayaknya kita di dominir oleh para penghina Robbmu…. 

And the last: 

U ar what u think! So, u must believe that u ar the winner!! If u believe it, u’ll be the big winner!! 

S’mangat!!

ANTARA ISUE DAN PERJUANGAN

“Mereka ingin (hendak) memadamkan cahaya (Dien) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh telah menyempurnakan caha-Nya meskipun orang-orang musyrik benci” QS. Ash-shof :8” 

Satu hal adalah pasti…! Bagi orang yang sudah mengikrarkan “Kami Beriman” Alloh tidak akan membiarkan mengatakan hal itu sebelum Alloh mengujinya. Lihat (QS 29:7) lihat juga Para Rosul Alloh mereka dituduh dungu, sesat, pendusta, penyihir dituduh sebagai orang gila, sebagai tukang sihir, diusir dari kampung halamannya, diancam akan disiksa dan dibunuh, dibujuk melalui harta dan kekuasaan pokoke de eel el. 

Satu hal adalah pasti…! Musuh-musuh Islam baik dari kalangan Yahudi, Nashroni, Kafir, Dholim, Fasik dan Munafiq mereka akan senatiasa membuat upaya-upaya untuk menghancurkan “Kesatuan Ummat” 

Satu hal adalah pasti…! Bahwa menjadi ummat Muhammad Rosululloh s.a.w. dengan mengikuti metode perjuangannya, sudah barang tentu akan menghadapi fitnah (issue) yang sama, sebagaimana yang dihadapi beliau. Mengikuti Sunnah Rosul lalu takut dengan Isu yang terdapat dalam perjalanan mengikuti ajaran Beliau adalah suatu hal yang ironis. 

Satu hal adalah Pasti…! Melanjutkan perjuangan Rosul berarti kita siap menjalani kehidupan yang berat, namun berakibat selamatnya diri dari adzab Api neraka dan masuknya diri kedalam Surga Alloh SWT, berfirman “ apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk kedalam Surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu “ QS 2:214. 

Ujian ini ditujukan kepada pengikut Sunnah Rasul yang Haq dan merupakan pertarungan antara golongan Alloh dan golongan Syetan/Iblis. 

Juragan Iblis memiliki suatu kepentingan untuk selalu merintangi dakwah Islam. Berbagai rencanapun mereka buat bahkan saking halusnya rencana mereka, banyak orang Islam yang terjerat oleh tipuan-tipuan mereka, yang pada akhirnya orang-orang yang mengaku Islam itu sendiri yang menjadi kendala besar bagi tegaknya nilai-nilai kebenaran Islam. Mereka jera terhadap kebenaran haqiqi, mereka samarkan kebenaran dibalik putihnya Sorban yang berkelebat bagaikan malaikat datang dari langit. Mereka samarkan kebenaran dibalik retorika dakwah diatas podium. Mereka kaburkan Islam di balik inteletualisme yang menyesatkan 

dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. QS 2:204 

Sungguhpun demikian bagi Mujahid yang Mukhlis hal ini merupakan ujian dan peningkatan kualitas iman itu sendiri. Semua isu dan rintangan disambutnya dengan jiwa ikhlas dan sabar, karena itu merupakan bagian dari ketetapan Alloh yang terulang kembali setelah para Rasul dan para penegak kebenaran dahulupun mengalaminya, sehingga bagi kita tampak jelas siapa yang menjadi pendukung penguasa Iblis dan siapa pendukung Alloh ????. 

Alloh SWT Berfirman dalam QS 

“dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu, dan agar Kami menyatukan (baik buruknya) hal Ikhwalmu. QS Muhammmad :3.” 

satu hal adalah pasti…! Bahwa tidak ada alasan yang membenarkan, seorang yang beriman untuk tidak turut ambil bagian dalam perjuangan , kecuali karena udzur yang dibenarkan Syara’, bagi orang yang berbadan sehat dan memiliki kemampuan, tidak diterima alasan untuk meninggalkan jihad, sekalipun alas an yang dikemukakan seolah-olah untuk menyelamatkan imannya. 

Dengan limpahan sepenuh cinta kepada Dien Islam dan cita-cita menegakkannya, mari kita mengarungi perjuangan besar ini. Sungai boleh mengering, gunung boleh hancur, orang-orang yang tidak suka boleh benci, isu boleh deras mengalir bagaikan air, namun perjuangan menegakan kebenaran dan membela keadilan Islam akan tetap dan abadi. Selama Dien Islam itu belum tegak dan fitnah itu belum lenyap maka tak ada kamus berhenti untuk berjuang. 

“dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya dien itu semata-mata bagi Alloh, jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Alloh maha melihat apa yang mereka kerjakan”. QS 8:39. 

Dengan Aqidah mari kita layani tantangan, dengan aqidah kita awasi perkembangan dengan aqidah kita hadapi kesulitan dan rintangan, dengan aqidah kita tempuh rimba raya perjuangan dan dengan aqidah kita layani maha samudera kehidupan, mati didalamnya Insya Alloh sebagai Syuhada. 

Dengan mengikhlaskan niat dan meluruskan tujuan, mari kita bergerak maju dengan derap dan irama yang sama, merampungkan kewajiban bersama, menegakkan kalimah Ilahi dimuka bumi. Sebagai umat yang satu, mari kita selesaikan bengkalai ini, mari kita wariskan “watak berjuang” yang berhak hidup dalam sejarah, sebagai harta lama dan pusaka bersama kita, guna angkatan mendatang! Mari kita akhiri hidup berpecah dan berpartai, mari kita habisi hidup bersengketa, bergolong-golongan; mari kita bina hidup berjama’ah dan berkepemimpinan, sesuai dengan teladan sunnah. Mari kita wujudkan kesatuan Umat, kesatuan barisan dan kesatuan perjuangan!. Hidup ini akan bermakna bila diisi dengan aqidah, dengan keyakinan dengan Syari’at dan perjuangan. Mari kita penuhi segenap udara dan cuaca ini dengan kegiatan berjuang dan kerelaan berkorban. 

Dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah ditangan kanan dan kain kaffan ditangan kiri, kafilah Mujahidin ini telah bertekad hendak meneruskan perjuangan dari sejarah yang belum tuntas; dalam kamus hidupnya haram “berhenti ditengah jalan” karena tempat berhenti hanyalah diatas pekuburan yang sepi. 

Allohumma Fasyhad. Ya Alloh berilah kami apa yang kami cita-citakan dan perkuatlah hidayah-Mu kepada kami, sehingga tercapai kiranya keridhoan-Mu. Amiiin….!

Nak, Inilah Sekolahmu: Alam semesta

Perempuan itu berjalan mengitari kebun kecilnya, kehamilannya menua membuat langkahnya tertatih. Maha benar Allah saat manusia di perintahkan menghormati ibunya. “Ibumu mengandungmu sembilan bulan dengan kepayahan yang bertambah-tambah”.

Sejenak ia berhenti dan mengehembuskan nafasnya, ditatanya lagi pot-pot kecil. Dia tersenyum sambil berkacak pinggang. Hhhfff…Benih akan bertumbuh menjadi pohon, berbunga dan berbuah. Memberi manfaat.

“Nak, kau dengar kan? Gemericik air yang kusiramkan di tanah berisi benih tadi?”

“..itulah kau sayang. Aku membentukmu sejak disini” . Dielusnya perut buncitnya, kemudian dibiarkannya semua letih berseteru membentuk pegal yang menyemut di kakinya. Ayunan didepan ‘padepokan kecil belakang rumah’ menjadi tempatnya bersantai. Allah memberikan pahala padamu wahai perempuan, surga! Dan kau mudah meraihnya dengan kesabaran.Sebagai istri terlebih sebagai ibu.

“Nak, kau ingin aku memperdengarkanmu apa? Sederet musik klasik yang katanya mencerdaskanmu? Sebentar, Nak… ada yang akan membentukmu lebih cerdas dan kau takkan bosan” Diambilnya mushaf al-qur’an kecil dari dasternya lalu lantunannya membuat sang janin 8,5 bulan itu bergerak-gerak menyambut fitrahnya saat ruh ditiupkan padanya sejak empat bulan yang lalu. Perjanjian dengan Allah : “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu Mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan-mu? Mereka menjawab, “betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”…..(QS.Al-A’raaf:172)

“Kau tahu nak, aku telah persiapkan pot-pot kecil berisi tanah dan benih serta sepetak kebun disana. Aku menyebutnya laboratorium mini untukmu”

“Kelak kau akan belajar dari tanah, bagaimana dia menumbuhkan dan menerima. Kau akan belajar dari kesabarannya. Menerima apapun namun menumbuhkan apa yang baik dengan izin Allah”

“Kau akan belajar , nak. Dan aku akan membimbingmu. Bukan aku sendiri, Nak. Tapi ayahmu juga. Dia memberimu keteguhan pula” perempuan itu tersenyum. Pendar merah muda di kedua pipinya menyiratkan satu rasa bernama: bahagia.

Ah, mengapa banyak perempuan enggan merasakan apa yang kurasakan sampai hari ini? Berdiskusi kecil dengan calon khalifah Allah di bumi? Satu dari sekian banyak generasi baru yang Allah ciptakan? Nak, aku mencintaimu.Sungguh.Karena Penciptamu menyuruhku begitu.

Matahari berpendar kemerahan di ufuk barat. Senja menampakkan merahnya. Siang ikhlas tergantikan perannya. Setelah kesibukan manusia diambang batas waktu. ‘Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal ‘(QS. Ali-Imran:190)

Perempuan itu memenuhi perannya yang lain. Berbakti pada satu makhluk yang dipasangkan untuknya oleh Sang Khalik dalam satu fase kehidupannya di bumi. Laki-laki itu membimbingnya takzim. Penghormatan yang layak diberikan pada seorang makhluk yang diciptakan oleh Rabb-nya untuk menjadi perhiasan terbaik. Keteguhannya menjadikan semai cinta makin menjadi. Cinta karena Allah begitu mereka sering menyebutnya. Berbalut romatisme perjuangan. Keduanya khusyuk dalam dialog-dialog dengan Sang Raja Manusia. Rabb… jadikanlah aku dan dzuriyahku mendirikan Sholat…

Sejoli manusia itu larut dalam perenungan-perenungan tentang diri dan semesta. Serambi belakang seumpama sepetak taman surga dunia, menumbuhkan cinta menyemaikan harap yang bermuara pada satu : gerbang surga hakiki. Perempuan itu memainkan manik-manik tasbih, Sang lelaki melantunkan lagi nada-nada syahdu mengiringi firman-firman ilahi. Perempuan itu tersenyum memandang langit.

“Nak, dengar, kali ini ayahmu melantunkan nada kasih untukmu”

“Nak, di bumi ibumu ini, waktu bernama malam telah menyapa. Mungkin kau gelap disana, sayang. Tapi kegelapan itu menempatkamu pada fitrah yang agung” nafas perempuan itu naik turun teratur. Efek psikologis dari sebuah keadaan bernama: bahagia. Sang calon bayi menyambutnya,menandak-nandak seolah mengatakan ,”Aku dengar, Bunda! Aku dengar!” laki-laki itu tersenyum ,senyum teduh sang calon ayah.

“Nak, kelak kau akan melihat langit yang luas, bintang-bintang dan rembulan dimalam hari dan matahari di siangnya.” Bisik perempuan itu lagi, masih memainkan tasbihnya.

“Kau akan belajar sayang, dari semuanya. Sebab, Tuhan menyuruh kita begitu.”

“kau akan belajar bagaimana matahari yang selalu ikhlas memancarkan sinarnya. Istiqomah menjalankan tugasnya, bahkan saat malam, bulan meminjam sinarnya untuk menerangi langit”

“… Kau kuharap juga menjadi bintang, sayang. Yang memiliki cahayanya sendiri meski ia nampak kecil di mata manusia. Namun dia bintang, bukan bulan yang hanya meminjam cahaya matahari.Sesuatu yang memiliki cahayanya sendiri akan tetap ada dan ‘hidup’ meski tak selalu nampak besar”

“…..Namun kau tak boleh cukup menjadi bintang yang sendiri. Sebab, kau akan terjebak keangkuhan dan tak cukup memberi arti”

“Nah…. Lihat nak! Itu rasi bintang. Kelak bunda akan tunjukkan padamu. Banyak macam namanya. Gugusan bintang itu memberi pedoman pada makhluk di bumi. Pada nelayan, pada petani, pada pelaut. Manusia tidak bisa sendirian mengubah dunia, sayang. Dia harus menjadi bintang-bintang yang membentuk rasi. Manusia harus bergandengan tangan dengan orang lain. Agar cahayanya, kelebihan dan kekurangannya berpadu saling mengisi sehingga makhluk dibumi akan mengambil manfaat dan menjadikan mereka pemandu. Cahaya itulah hidayah dari Allah, sayang. Yang kau bersaksi bahwa tiada tuhan selain-Nya sejak disini”perempuan itu mengelus perutnya. Kali ini dia tak lagi hanya berbisik, namun ia menuliskan semua gumamnya.Pena dan kertas adalah teman sejarah. Sang lelaki tersenyum. Aku makin mencintaimu.

Bunda aku mencintaimu, sungguh! sebab di rahimmu aku tumbuh menjadi calon bintang yang akan membentuk rasi bersama bintang-bintang lain sebayaku. Janin itu menandak-nandak lalu tenang.

Bunda…. Bilakah aku melihat wajahmu? Kubayangkan kau seteguh bunga mawar yang kita siram pagi tadi. Maukah kau ceritakan padaku tentang bunga mawar bunda? Pasti kau akan bercerita Bunda, sebagai satu mata ajar di sekolah peradaban kita

Satu bulan sepuluh hari kemudian

Selamat datang putri, tangismu menandai bahwa sekolah peradaban untukmu telah resmi dibuka. Perempuan itu menangis.Tangis bahagia. Tuhannya memberinya kesempatan untuk menjadi guru di salah satu ruang sekolah peradaban:di rumahnya. Keajaiban itu berupa : perpindahan satu fase kehidupan dari alam ruh ke alam rahim kemudian ke dunia. Oh, Rabbi…. Semoga aku sanggup membimbingnya.

Laki-laki itu terpana. Wahai, aku tak pernah bisa membayangkan sakit yang kau rasakan, pejuang Kehidupan! Bukankah ini bukti bahwa perempuan lebih perkasa dari laki-laki dengan kesabarannya? Bukankah ini bukan sebuah kelemahan namun kelemahlembutan yang menumbuhkan ketegaran? Rabbi… pantas jika surga ada dibawah telapak kaki seorang ibu. Aku menghormatimu lebih dari sebelumnya, Ibu baru!

Enam tahun kemudian

Bersyukurlah karena Allah masih memelihara sekolah peradaban bagi manusia: alam semesta. Dan rumah kita sebagai salah satu ruang kelasnya. Tangan-tangan mungil itu memainkan sekop kecil. Tertawa-tawa kecil mengeluarkan gumam-gumam khas bocah. Perempuan disampingnya tersenyum .Biarkan saja dia berlumur tanah sebab dari itu dia tercipta. Biarkan saja tangan-tangan kecil itu meraba, merasakan setiap tekstur tanah dan semua alat peraga alami yang tampak didepan matanya.

Bukankah pergesekan kulit nya yang lembut dengan tanah dan semesta akan memberinya pelajaran baru? Biar saja. Jika ingin kehidupan ramah padanya, maka jangan ciptakan permusuhan dengan alam semesta meskipun hanya sepercik rasa takut. Sebab jiwa murni itu sangat peka. Kotoran di gamisku bisa dibersihkan, namun bekas kemarahanmu dihatinya sulit dihilangkan. Begitu kira-kira kanjeng Rasul Muhammad mengajarkan kita bagaimana bersikap lembut walau’hanya’ pada seorang bayi.*

Indera diciptakan untuk merasa, melihat, membau, mendengar,mengecap. Alam semesta adalah sekolah kita. Biarkan dia mengerti bahwa tubuhnya adalah pelajaran tak terperi. Suatu hari dia akan merasa dirinya adalah bentukan terbaik.

Mulailah percakapan dua generasi memulai pelajaran hari ini: kehidupan.

“Mengapa Bunda mengubur biji itu dengan tanah?” gadis kecil bertanya. Hmmm… kosakatanya yang kaya hasil dari kecerewetan perempuan disampingnya.

“ha…ha.. ini me- na-nam, Sayang, bukan mengubur”

“Me-na-nam ? Untuk apa?”

“Agar dia tumbuh”

“Tapi biji itu tertutup tanah, Bunda”

“Iya, nak… tapi dia hidup..” Gadis enam tahun! Kuperkenalkan kau pada penciptamu. Bertanyalah Sayang sebab telah kubiasakan kau sejak janin.

“Hidup? Dengan apa?”

“dengan air yang kita siramkan tadi, dengan pupuk,dengan udara”

“ Kau tau sayang?dahulu kamu pun ditanam begini” perempuan itu membentuk mimik selucu mungkin.

“ha..ha…ha….” gadis kecil itu tergelak.

“Aku, Bunda? He..he… dimana?”

“Hmmm… disini” perempuan itu menunjuk perutnya

Gadis itu melongo heran. Mungkin batinnya sedang menerka bagaimana mungkin dia yang sebesar ini. ‘di-ta-nam’ di perut ibunya???

“Bunda-aaa! Nggak mungkin!Nggak cukup!”

“Kau dahulu sebesar benih ini nak, sayang” dijumputnya biji bunga matahari.

“Kau di tanam Allah di perut Bunda”

“Allah? Yang setiap hari kita berdo’a pada-Nya” perempuan itu mengangguk.Oh… ananda. Benarlah kau lupa bahwa kau pernah bersaksi bahwa Dia Tuhanmu. Kau harus tetap ingat, nak dengan perjanjian Agung itu. Aku miris dengan sebayamu yang mungkin tak pernah lagi dikenalkan pada Allah-nya saat dia lahir ke dunia

tiap-tiap anak lahir dalam keadaan suci (fitrahnya). Orang tuanya yang membentuknya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi

“hiii… pasti gelap ,ya, Bunda?”

“Iya… tapi kau tetap hidup, kan sayang? Menjadi anak Bunda yang pandai” perempuan itu memandangnya penuh cinta

“i..ya…. kok bisa, ya Bunda?” gadis itu mengikut ibunya, mengaduk-aduk tanah, menyemai benih-benih bunga. Tangan kecilnya bergerak semampu dia bisa.

“Karena Allah mencintaimu, sayang. Dia memberimu makanan melalui bunda, dia menitipkan mu pada Bunda dan Ayah, untuk merawatmu”

“ya! Ya! Seperti kita memberi pupuk dan air pada benih ini”

“Anak pintar!”

“Benih ini akan tumbuh sepertiku, kan Bunda?”

“Iya, sayang !menjadi bunga yang cantik. Kau akan senang melihatnya kelak seperti juga Bunda senang melihatmu tumbuh”

“mmm….. “ sang gadis kecil mencoba mengerti.

“kau akan senang melihat benih itu tumbuh perlahan-lahan setiap hari. Karena kau merawatnya dengan baik. Allah menitipkannya pada kita”

“Tapi Allah tidak menyiraminya,kan bunda?!” Oh, gadisku aku harus menjawab apa lagi?

“Hmm…Memang. Tapi Allah yang memberi kehidupan untuk benih itu, untukmu, untuk Bunda untuk semua yang ada di alam”

“Bunda…. Akan merawatku juga? Seperti kita merawat bunga ini, iya kan Bunda?” Perempuan itu mengangguk, dibasuhnya tangannya, dibimbingnya gadis kecil itu membersihkan dirinya. Cukup untuk hari ini , Sayang. Pelajaran kita tentang kehidupan. Kelak kau akan semakin tahu banyak hal. Ini hanya permulaan.

Perempuan itu…. semoga aku! Setahun, dua tahun, tiga tahun atau beberapa tahun lagi jika Allah menghendakiku dan memandangku pantas menjadi salah satu pendidik di sekolah peradaban-Nya: Alam semesta ; disalah satu ruang kelasnya;rumah tanggaku! Dimana setiap sudutnya adalah serpihan-serpihan ilmu dan hamparan pengetahuan untuk mencintai-Nya. Dimana akan kukenalkan generasi-generasi dari rahimku tentang mencintai Rabb-nya, dimana disekolah peradaban itu….lulusannya tidak sekedar mendapat selembar kertas bertuliskan ;lulus! Sebab Alam semesta menjanjikan proses belajar yang tak henti. Selamat datang di sekolah peradaban kita: Alam semesta, langit dan bumi yang hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.Wallahu a’lam bish-shawwab

*) seorang bayi ‘pipis’ di gendongan Rasulullah Muhammad SAW kemudian ibunya segera ‘merebutnya ‘ karena rasa hormatnya pada Rasulullah. Kemudian rasulullah berkata yang kurang lebih seperti di atas.

LIMA SYARAT BERMAKSIAT

Suatu hari ada seorang lelaki yang menemui Ibrahim bin Adham. Dia berkata, ''Wahai Aba Ishak! Selama ini aku gemar bermaksiat. Tolong berikan aku nasihat.'' Setelah mendengar perkataan tersebut Ibrahim berkata, ''Jika kamu mau menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka boleh saja kamu melakukan maksiat.'' Lelaki itu dengan penasaran bertanya. ''Apa saja syarat-syarat itu, wahai Aba Ishak?''

Ibrahim bin Adham berkata, ''Syarat pertama, jika kamu bermaksiat kepada Allah, jangan memakan rezekinya.'' Mendengar itu dia mengernyitkan kening seraya berkata, ''Lalu aku mau makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rezeki Allah?

''Ya,'' tegas Ibrahim bin Adham. ''Kalau kamu sudah memahaminya, masih pantaskah memakan rezekinya, sementara kamu selalu berkeinginan melanggar larangan-Nya?''

''Yang kedua,'' kata Ibrahim, ''kalau mau bermaksiat, jangan tinggal di bumi-Nya! Syarat ini membuat lelaki itu kaget setengah mati. Ibrahim kembali berkata kepadanya, ''Wahai Abdullah, pikirkanlah, apakah kamu layak memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu melanggar segala larangan-Nya?''

''Ya, Anda benar,'' kata lelaki itu. Dia kemudian menanyakan syarat yang ketiga. Ibrahim menjawab, ''Kalau kamu masih mau bermaksiat, carilah tempat tersembunyi yang tidak dapat terlihat oleh-Nya!'' Lelaki itu kembali terperanjat dan berkata, ''Wahai Ibrahim, ini nasihat macam apa? Mana mungkin Allah tidak melihat kita?''

''Nah, kalau memang yakin demikian, apakah kamu masih berkeinginan berlaku maksiat?'' kata Ibrahim. Lelaki itu mengangguk dan meminta syarat yang keempat.

Ibrahim melanjutkan, ''Kalau malaikat maut datang hendak mencabut rohmu,katakanlah kepadanya, 'Mundurkan kematianku dulu. Aku masih mau bertobat dan melakukan amal saleh'.'' Kembali lelaki itu menggelengkan kepala dan segera tersadar, ''Wahai Ibrahim, mana mungkin malaikat maut akan memenuhi permohonanku?''

''Wahai Abdullah, kalau kamu sudah meyakini bahwa kamu tidak bisa menunda dan mengundurkan datangnya kematianmu, lalu bagaimana engkau bisa lari dari murka Allah?''

''Baiklah, apa syarat yang kelima?'' Ibrahim pun menjawab, ''Wahai Abdullah kalau malaikat Zabaniyah datang hendak menggiringmu ke api neraka di hari kiamat nanti, jangan engkau mau ikut bersamanya.''
Perkataan tersebut membuat lelaki itu tersadar. Dia berkata, ''Wahai Aba Ishak, sudah pasti malaikat itu tidak membiarkan aku menolak kehendaknya.''

Dia tidak tahan lagi mendengar perkataan Ibrahim. Air matanya bercucuran.

''Mulai saat ini akut bertobat kepada Allah,'' katanya sambil terisak.

Nikmat Sesaat bersama Syetan

“Neraka itu diliputi oleh berbagai keinginan syahwat, sedangkan syurga diliputi dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh hawa nafsu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits pendek ini cukup masyhur di kalangan kaum musllimin. Dari corong mushalla kecil sering terdengar hadits ini dibaca oleh para mubaligh lokal untuk mengingatkan jama’ahnya. Demikian pula para kiai dan ulama besar sering membawakan hadits ini.

Suatu kali Rasulullah bersama para sahabatnya berada di suatu pekarangan. Sambil duduk-duduk, beliau mengambil sebilah kayu. Lantas beliau membuat garis lurus. Di kiri kanan garis lurus terebut Rasulullah membuat garis-garis kecil. “Garis ini menggambarkan jalan yang lurus (Islam), sedang disamping kiri kanan itu ada beberapa garis, yang masing-masing ada pintunya. Setiap pintu dijaga oleh syetan. Terhadap setiap orang yang melewati jalan lurus tersebut, syetan selalu mengiming imingi dengan berbagai kesengangan. Siapa yang tertarik dengan iming-iming syetan, maka terjerumuslah ia ke dalam kesesatan.”

Syetan tak kalah dengan juru kampanye yang mengobral janji berbagai macam. Tak sekedar janji, tapi iming-iming syetan ini bisa berbagai kenikmatan, walaupun sifatnya hanya sesaat. Meskipun demikian, siapa yang tidak tertarik dengan berbagai kenikmatan?

Nafsu adalah salah satu unsur kejiwaan yang cukup vital bagi manusia. Selain sebagai karunia, nafsu ini sekaligus menjadi ujian. Disebut karunia karena tanpa nafsu, manusia tidak akan bisa bertahan hidup. Contoh sederhananya adalah nafsu seksual atau syahwat. Tanpa nafsu ini manusia tidak akan berketurunan. Sama halnya dengan tanpa nafsu makan, manusia akan segera menemui ajalnya.

Nafsu disebut ujian, karena ia selalu mengajak manusia untuk memuaskannya. Padahal kepuasan itu tidak akan pernah ada batasnya. Semakin banyak yang diperoleh, semakin banyak pula yang diinginkan. Terpenuhi satu keinginan, timbul sepuluh hasrat yang lain. Sebelum kuasa ingin punya kekuasaan. Satu periode selesai, ingin periode berikutnya, sampai akhirnya ingin berkuasa seumur hidup.

Rupanya syetan tahu dan mampu memanfaatkan peluang ini degan baik. Mereka tawarkan fatamorgana kepada manusia yang sedang kehausan dalam perjalanan panjangnya. Manusia dibikin sibuk untuk menggapai angan-angannya. Andai saja syetan memberi minum, maka yang disodorkan tiada lain hanyalah air garam. Semakin banyak diminum bertambah haus saja.

Imam Al Qurthubi mendefinisikan syahwat sebagai segala sesuatu yang sesuai dengan kesenangan hawa nafsu, yang cocok dengannya, dan manusia terdorong untuk melakukannya. Berzina, misalnya. Baik zina mata, zina tangan, atau zina yang sesungguhnya. Termasuk di dalamnya adalah korupsi, judi, minuman keras, makanan yang haram dan perpecahan.

Adapun syurga - sebagaimana dalam hadits ini – selalu di kelilingi oleh hal-hal yang kurang menyenangkan. Manusia enggan dan berat melakukannya karena kurang sesuai atau tidak cocok dengan selera nafsunya.

Meskipun syari’at agama telah didesain oleh ALLAH sebagai rahmat guna mempermudah urusan manusia di dunia dan akhirat, tapi manusia tetap saja merasa berat. Mereka merasa terlalu banyak aturan dan batasan-batasan yang menyulitkan. Mereka memilih kebebasan tapi tidak mau bertanggung jawab. Mereka menuntut hak tanpa mau menjalankan kewajiban.

Jika direnungkan, apa hak manusia atas Tuhannya ? Manusia tidak punya hak apa-apa. Hanya karena kemurahan-Nya, manusia diciptakan sebagai manusia, dihidupkan dan diberi berbagai fasilitas dan rezeki. Apa lagi yang masih harus dituntut dari ALLAH? Tidak ada. Apa yang ada dipundak manusia adalah tugas dan tanggung jawab, yang sebenarnya semata-mata untuk kepentingan manusia itu sendiri. ALLAH tidak butuh disembah, dan juga tidak punya interest atas segala aturan dan syari’at-Nya. Ketaatan manusia menjalankan perintah-Nya tidak menambah sedikitpun kekuasaan-Nya. Kemungkaran manusia kepada-Nya juga tidak mengurangi wibawa-Nya.

Syari’at Islam itu sederhana dan mudah. Tidak ada yang menyulitkan, apalagi sampai merugikan kepentingan manusia. Bahkan pada kondisi-kondisi tertentu ALLAH masih memberi berbagai kemudahan atas perintah-Nya.

Wudhu’, misalnya bisa diganti dengan tayamum jika kesulitan mendapatkan air. Shalat, bisa dijama’ dan diqashar jika berada dalam perjalanan atau karena sakit. Jika tidak bisa berdiri, seorang muslim masih diperkenankan shalat sambil duduk. Jika tidak mampu, boleh dengan tidur. Jika masih susah boleh hanya dengan isyarat saja.

Wanita yang sedang haid diberi keringanan, demikian juga yang sedang nifas. Ada beberapa keringanan, baik dalam puasa maupun ibadah lainnya bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui. Wanita juga diberi hak waris sekalipun seluruh hidupnya menjadi tanggung jawab lelaki, baik suami, orang tua maupun saudaranya.

Rasulullah diutus ke dunia ini dengan membawa misi rahmat, sekaligus merupakan hadiah dari ALLAH untuk seluruh manusia. Beliau diutus bukan untuk memberi beban tambahan, juga tidak untuk menyusahkan. Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya ALLAH tidak mengutusku sebagai seorang yang mempersulit atau mencari-cari kesalahan orang lain, akan tetapi aku diutus oleh-Nya sebagai pengajar dan pembawa kemudahan.”(HR. Muslim)
Syetan memang patut menjadi terdakwa, sebagai sosok juru kampanye yang berhasil menanamkan rasa berat pada manusia untuk melakukan kebaikan. Merupakan hasil propaganda syetan pula, munculnya kesan nikmat pada berbagai tindakan kemungkaran. Syetan memang musuh yang nyata bagi manusia.

Dunia Kegelapan era CYBER


Carut marut ulah jahili, mempertuhankan materi telah meredupkan cahaya Ilahi di lorong-lorong kehidupan manusia, di relung-relung batin sang nurani, siapakah yang akan meyalakannya kembali?

Yahudi telah menggurita, merajalela di seantero dunia, berkuasa di dunia nyata maupun dunia maya, menjadi penyebar virus angan-angan dan khayalan memangsa kaum muda di tempat-tempat kotor penuh nafsu dan kotoran kerakusan. Maka siapakah yang diharapkan untuk melawannya, melibasnya dan mengalahkannya?

BERita tak nyata, isu yang palsu, gosip murahan disebar dimana-mana. Media masa merangkai cerita yang tak ada alias bohong. Dongengan-dongengan tentang terorisme dan Jama’ah Islamiyah, Infotaiment menyebarkan gosip-gosip fantatis gaya hidup selebritis, berita-berita sadis menjadi sarapan pagi, tayangan dan lelucon jorok menjadi bumbu wajib, sinetron-sinetron musyrik bergaya ”Islami”, da’i-da’i diproduksi adu nyali melantunkan suara menghibur pemiarsa. Lalu dimana BERita kebenaran?

Mari kita lawan Carut marut jahiliyah Yahudi dengan BERita palsu dan menipu dengan MENTAL MU’MIN dan MUSLIM SEJATI demi KEHIDUPAN YANG HAKIKI, KESELAMATAN HIDUP DI DUNIA DAN AKHIRAT.

baca lawan....!!!

SEBAIT CERITA DARI GUNUNG....


Seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. "Aduhh!" jeritannya memecah keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut, ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, "Aduhh!" 

Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?" Jawaban yang terdengar, "Hei! Siapa kau?" Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!" 

Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah, "Apa yang terjadi?" 

Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, "Anakku, coba perhatikan." Lelaki itu berkata keras, "Saya kagum padamu!" 

Suara di kejauhan menjawab, "Saya kagum padamu!" Sekali lagi sang ayah berteriak "Kamu sang juara!" Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!" 

Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti. Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah GEMA, tapi sesungguhnya itulah KEHIDUPAN." 

Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakanmu. 

Dengan kata lain, kehidupan kita adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita. Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hatimu. 

Bila kamu menginginkan hasil yang membahagiakan, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. 

Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.

Nikmatnya Hidup Ber-Qur’an


Hidup berqur’an itu nikmat. Allah sendiri yang menegaskan hal itu dalam firman-Nya: 

“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (Q.S. Thaha: 2).


Sebaliknya, kebinasaan akan menimpa kepada orang yang kufur terhadap nikmat Allah Swt ini. 
“Tidakkah engkau tahu, tentang orang-orang yang seharusnya mensyukuri nikmat Allah (Qur’an), tetapi sebaliknya mereka mengingkarinya dan mereka menempatkan kaumnya dalam kebinasaan?” (Q.S. Ibrahim: 28)

Mengapa dengan berqur’an hidup menjadi nikmat? Karena Qur’an itu penuh barakah, Qur’an itu segala-galanya, sarat dengan petunjuk bagi individu maupun masyarakat. 

Allah Swt jelaskan, 
“Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab yang mempunyai keberkahan yang telah Kami turunkan. Apakah kamu akan mengingkarinya?” (QS. Al-Anbiya: 50) 

Kalau kita mau berhasil mengendalikan diri, bacalah Qur’an. Kalau kondisi masyarakat ingin berubah, bacalah Qur’an dan tegakkanlah isi kandungannya. Pribadi-pribadi masyarakat Arab sebelum Islam, juga sistem pengabdiannya kepada Tuhan telah rusak, orang bahkan sudah tenggelam dalam kehidupan yang zhulumat (gelap). Setelah berjumpa dengan Qur’an mereka mampu mengubah sikap hidup secara drastis. Dari kegelapan kepada cahaya, dari kejahiliyahan kepada keimanan. 

Sentuhan ayat pertama dari Qur’an: “Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan,”, telah menyadarkan orang untuk berbenah diri secara aqidah. Dari percaya kepada banyak Tuhan (politheisme), kepada satu Tuhan yang Esa, Allah Swt. Selanjutnya mereka menjadikan Allah sebagai satu-satunya wali (pemimpin/pelindung) mereka. 

Kesadaran itu kemudian berkembang ke dalam sikap hidup mereka. Hanya Allah lah yang pantas disembah. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk dirinya, bukan berhala-berhala itu. Dia-lah yang memelihara hidup ini. Seiring dengan bimbingan yang diberikan oleh Rasulullah Saw, pemahaman mereka semakin kental dan kuat dengan wahyu. Jiwanya dibalut semangat Qur’an. Dan mereka bangga hidup bersama Qur’an.

Dari sinilah kemudian terlahir kekuatan spiritual. Tumbuhlah dalam diri mereka kesadaran bahwa ada sesuatu Dzat yang mengatur dan mengendalikan alam ini. Sesaat pun Dia tidak pernah lengah atas kekuasaan-Nya. Dia-lah Dzat yang menurunkan perundang-undangan untuk jagad raya berupa Qur’an.

Maka kalau kekuatan spiritual kita memadai, di sanalah kita akan mampu berpacu dan berkompetisi. Sedikit pun kita tidak lemas menghadapi aneka kondisi terkini. Kita sadar, Allah-lah yang mengendalikan ini semua. Allah tidak pernah tidur dan merasa ngantuk, sehingga tidak pernah lalai memberikan bimbingan kepada hamba-hamba-Nya. 

Kesadaran kita tentang Tuhan pada ayat pertama “Iqra’” telah dapat membangun spiritual yang melahirkan tauhid rububiyah, di mana kesadaran dan kekaguman muncul bahwa Allah sebagai pencipta, pengatur, dan pelindung jagad raya, kemudian secara otomatis akan bertauhid uluhiyah, dia akan melihat kemuliaan Allah dalam persada kehidupan ini.

Inilah rangkaian kesadaran dari orang yang disentuh Qur’an. Setelah memiliki kesadaran bahwa Allah Swt sebagai pelindung, pemelihara, selanjutnya terlihatlah olehnya betapa kemuliaan Allah terhampar di alam ini. Dialah Raja dari segala penguasa. Kesadaran ini kemudian diteruskan dengan jiwa pengabdian kepada Allah sepenuhnya. 

Setiap langkah-langkahnya diatur dengan langkah-langkah pengabdian. Terus disebarluaskan rahmat Tuhan. Dalam dirinya pun muncul rasa sayang kepada semua makhluk Tuhan. Tidak ada rasa ingin merugikan orang lain. Dia ikhsan kepada makhluk, ihsan kepada manusia.

Inilah yang harus kita bangun, agar di masa depan tercipta suasana hidup saling mencintai dan saling menyayangi. Terus membangun sistem persaudaraan kemanusiaan, mempererat temali persaudaraan Islam. Menebarkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta seperti yang dituntunkan Qur’an merupakan konsep kehidupan yang mesti ditegakkan segenap kaum Muslimin. 


Inilah konsep hakiki kebersamaan.


Dicari.....!!! Pemuda Idaman!


Idaman? Emangnya Ramuan Madura? Begitu kira-kira komentar kamu. Sori, bukan iklan. Atau ada yang mau komentar lain? Maksud kita sih, supaya bisa ngajak kamu ngobrol dan akhirnya kamu mikir. Ya, itung-itung berbagi pengalaman dan ilmu, lho. Jadi pemuda idaman itu nggak sulit, kok. Asal kamu mau sadar, mau belajar dan mau mikir tentang keberadaan kamu sendiri sebagai seorang manusia dan sebagai seorang muslim. Ingat ya Brur, kita memang harus menjadi panutan. Diidamkan oleh siapa saja tentu tanpa maksud ingin dipuji atau dikagumi doang. Tapi maksudnya, bagaimana kita berusaha agar menjadi pelopor dalam kebaikan. Ingat ya, bukan nyari popularitas semata di mata manusia, tapi berusaha menjadi yang terbaik dalam pandangan Islam. Oke, setuju kan?

Kamu juga nggak boleh kalah dengan remaja-remaja yang aqidahnya bertentangan dengan Islam. Soal prestasi maupun keberanian dalam membela yang benar. Ingat ya, membela yang benar, Dien Islam Thea  bukan membela yang bayar!

Idealnya, remaja macam kamu ini memang memiliki semangat yang top dalam urusan mencari ilmu, dalam belajar dan ketika membela Islam. Karena,  terus  terang   saat  ini  kita  prihatin   banget deh dengan gaya kamu yang pecicilan alias banyak tingkah! Kamu ternyata lebih senang bila dicap remaja gaul. Celakanya, justeru gaul dalam masalah yang salah. Bukannya kamu berjuang membela Islam, eh, malah pacaran….! Ngehambur-ngehamburin waktu aja…..

          Guys, kita harus banyak introspeksi alias menilai diri sendiri. Kamu udah nggak bisa lagi dibilang anak-anak. Kamu tuh udah dewasa. Udah SMA. Udah bisa mikir, mana yang benar dan mana yang salah. Iya, kan?

Coba, bandingkan jumlah teman kamu yang triping di diskotik dengan yang geleng-geleng kepala (baca: dzikir) di masjid? Kamu juga nggak bisa berbohong kan, ketika diajukan pertanyaan tentang jumlah remaja cewek yang memakai jilbab dengan yang mengumbar auratnya. Pasti kamu juga setuju sekaligus prihatin bahwa ternyata sejauh mata memandang banyak aurat teman remaja putri yang dipamerkan. Padahal bukan pasar malam, kan? Nah, catet itu.

Malah, Non! Kalo kita dengerin obrolan remaja sekarang ini, pasti nggak jauh dari artis dan film-film. Nggak tahu, apakah ia ingin seperti mereka atau sekadar untuk disebut gaul. Yang jelas, survei membuktikan bahwa banyak remaja yang kemudian tersihir oleh gemerlapnya dunia kaum seleb. Gimana nggak, karena yang jadi bahan obrolan nggak jauh dari gosip seputar artis. Celakanya, justru teman-teman remaja kita itu secara tidak sadar meniru setiap gerak langkah artis pujaannya. Sekarang jadi ada pertanyaan, siapa sebenarnya yang jadi idaman? Kamu ataukah mereka?

Teman, masih banyak yang harus kita benahi. Sosok pemuda idaman itu nampaknya harus segera dimunculkan. Bukan apa-apa, kita juga udah jenuh dengan tingkah teman-teman remaja seusia kamu yang ogah belajar Islam. Boro-boro jadi idaman, malah bertumpuk jadi beban masyarakat. Sedih ya, Brur?

Tentu saja, kita nggak ingin menjadi generasi santai dan penuh hura-hura. Sejak dulu kita sudah diwarisi sebagai generasi pejuang. Bukan generasi yang akan menjadi beban masyarakat. Sejak dulu Islam mengajarkan tentang disiplin, kerja keras dan keberanian dalam menyampaikan kebenaran.

Islam Sumber Keberanian?

Hidup kalo nggak punya target dan tujuan rasanya kering. Benar-benar kering. Nggak percaya? Sekarang, coba kamu renungkan, buat apa hidup kalo kamu nggak tahu akan ke mana dan akan ngapain. Sulit bisa idealis bila kamu nggak punya tujuan dan target dalam hidup. Dua hal itulah yang sebenarnya akan mengendalikan kamu dalam kehidupan ini. Sebab, kalo nggak, bisa-bisa kamu ngelantur kemana-mana karena nggak punya pegangan. Dan tentu saja, sebagai seorang muslim tujuan dan target hidup kita adalah mencapai ridho Allah dengan beribadah kepada-Nya.

Sehingga wajar bila kemudian muncul generasi para sahabat yang mampu meng-aktualisasikan Islam dalam kehidupannya. Kamu kenal Abdullah Ibnu Umar? Nah, beliau ini patut kamu contoh dalam hidup kamu. Di usianya yang menginjak 13 tahun, sudah kebelet ingin ikut berjihad bersama Rasulullah saw. Beliau bersama Al Barra ngotot ingin berperang bersama pasukan Rasulullah dalam perang Badar, namun oleh Rasulullah saw ditolak karena masih kecil. (Shahih Bukhari jilid VII, hal. 226 dan 302). Semangat seperti inilah yang saat ini sulit ditemukan dalam diri pemuda Islam seusia kamu. Kalau pun ada itu hanya sedikit saja yang memilikinya. Jangankan untuk berjihad, dalam menuntut ilmu saja, kadangkala kamu sudah bosan dan tak bersemangat. Yang muncul justeru semangat dalam tawuran dan tindak kriminal lainnya. Nggak semuanya sih, tapi kebanyakan!

          Idealnya, seorang pemuda atau remaja kudu memiliki semangat yang hebat. Mengingat fisik kamu yang masih kuat. Dalam sejarah, usia para pemuda Islam yang pertama mendapatkan pembinaan di Daarul Arqaam rata-rata sekitar 20 tahunan. Yang paling muda adalah Ali bin Abi Thalib, waktu itu usianya masih 8 tahun hampir sama dengan Az-Zubair bin Al Awwam. Kemudian dalam pembinaan Rasul itu masih ada Jai ja’far bin Abi Thalib yang saat itu usianya 18 tahun, Usman bin Affan, usia 20 tahun, Umar bin Khaththab sekitar 26 tahun dan Abu Bakar As Shidiq yang sudah berusia 37 tahun saat itu. Dan masih banyak lagi para sahabat yang semuanya masih relatif muda usia. Mereka bersemangat dalam mengikuti pembinaan Rasulullah saw. Aqidah Islam yang ditanamkan Rasul mampu mengubah pola pikir mereka tentang kehidupan.

Gimana, bisa dipahami? Sekarang kamu nggak bisa nyari-nyari alasan lagi untuk melegalkan tingkah kamu yang amburadul itu. Jangan merasa sah melakukan hura-hura sebagai seorang remaja. Nggak ada dalam kamus Islam bahwa seorang remaja itu hidupnya harus nyantai dan hura-hura. Malah kamu juga kudu malu sekadar contoh Bill Gates, yang ketika itu berusia 14 tahun mampu memimpin kelompok komputer sekolahnya. Memang sih, Gates anak orang kaya di wilayah Pantai Barat Amerika. Tapi yang perlu dicontoh adalah semangatnya. Gates yang drop out dari Harvard University pada usia 19 tahun dan kemudian mulai mendirikan perusahaan software bernama Microsoft bersama Steave Allen temannya. Sekarang? Ia jadi juragan terkaya di dunia. Malah, lucunya program yang ia buat dulu pernah dijualnya kepada raksasa perusahaan komputer; IBM. Sekali lagi, ini sekadar contoh. Karena seharusnya kita lebih semangat lagi, soalnya apa pun yang kita lakukan di dunia adalah ibadah. Apa yang dilakukan Bill Gates hanyalah fatamorgana di hadapan Allah. Tentu saja, karena ia golongan orang-orang kafir.

Gimana, Brur? Cukup membuat kamu semangat? Syukurlah. Semangat pemuda-pemuda?آ  seperti itulah yang membuat Islam disegani. Yang telah membuat orang-orang di luar Islam kagum dengan mereka.

Remaja Ideal

Ya, Islam memang sumber keberanian. Dan idealnya, pemuda Islam itu memang berperilaku demikian. Seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.? إ“Pemuda yang bodoh, beku (tidak punya ruh jihad) untuk memajukan bangsa, matinya itu lebih baik daripada hidupnya.

Trik Menjadi Pemuda Idaman
Apa sih, trik agar jadi pemuda (juga pemudi) idaman?
1.     Niatkan bahwa belajar Islam itu untuk ibadah.
2.    Ilmu yang didapat diamalkan dalam kehidupan.
3.    Islam yang dikaji jangan setengah-setengah, musti Kaffah
4.    Memiliki semangat untuk membela Islam.
5.    Menyadari bahwa Islam wajib diperjuangkan.
6.    Nggak betah hidup nyantai dan hura-hura.
7.    Siap berkorban untuk Islam.
8.    Kuat iman, kuat ilmu, hijrah dan Jihad

Itu sekilas trik agar jadi pemuda idaman. Kamu boleh nyari yang lainnya. Pokoknya, kamu melakukan semua itu untuk Islam dan kaum muslimin. Percayalah, segalanya berawal dari sebuah kesadaran yang tinggi untuk maju. Dan tentu saja, untuk menghasilkan para remaja pilihan seperti itu dibutuhkan pembinaan yang benar dan hanya dimasyarakat Islamlah kamu akan mendapatkan semuanya itu....

Oke, siapa diantara kamu yang bisa menjadi profile pemuda idaman untuk memperjuangkan Islam?

Gimana, berani kan? Siapa takut? Yes, we are the champions my friend..

Jalan Menuju......!!!

Refleksi Kehidupan


Dalam kehidupan ini banyak sekali pengalaman, kejadian, dan kondissi rasa yang silih berganti… dalam tulisan ini saya mencoba merenungi makna kehidupan dari satu terminologi ”jalan”… diharapkan kita hidup sebagai manusia di muka bumi ini mengetahui tujuan dan peran serta fungsinya dengan benar.. amin..

MEROBEK BAJU FIRQOH


Segala puji bagi-Nya dan sholawat serta salam untuk kekasihnya; Muhammad s.a.w yang telah mengajarkan kepada kita untuk bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang kepada orang-orang mu’min. Ikhwah fillah, maaf bila tulisan ini mengganggu ketentraman pola pikirmu. Tapi aku yakin hatimu terbuka luas untuk terus menilai dan menghayati maksud yang terselip dicelah kata-kataku ini. Mudah-mudahan ada kebaikan buat kita bersama.

MUHASABAH


“hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),dan bertaqwalah kepada alloh,sesungguhnya alloh maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(Qs.59 : 18)

Setiap mukmin semestinya sadar dan menyadari akan langkah dan gerak perilaku kehidupan selama ini. Dari mana asal hakikat adanya kehidupan ini, untuk apa kita hidup di dunia sebenarnya dan bagaimana akhir perjalanan hidup manusia nantinya. Dilematis pertanyaan setiap diri akan selalu ada, karena setelah manusia diciptakan dari setetes darah sampai kepada kesempurnaan kejadiannya -dengan akal dan pikirannya- selalu berhadapan pada objektifitas kehidupan maupun subjektifitasnya.

KEKUATAN CINTA


Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.

Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.

JANGAN MAJU DIHADANG JURANG


Bila kita perhatikan keadaan sekarang ini, alangkah majunya industri kita kahir-akhir ini di bandingkan tahun-tahun jauh sebelumnya. Kita brsyukur ke hadirat Alloh SWT, yang telah mengkaruniakan segalanya itu untuk kesejahteraan bangsa kita semua.

GABAH YANG TIDAK MENANGGALKAN KULITNYA TIDAK AKAN JADI BERAS



“Bermanfaat karena sudah lewat masa bahayanya”

Bila orang berkata bahwa padi itu berbahaya bila di makan, sebab padi bukanlah makanan manusia, maka ucapan itu adalah benar. Padi memanglah berbahaya. Bila padi bersentuhan dengan kulit, dia dapat mengakibatkan gatal dan penyakit kulit. Padi sungguh tidak ada gunanya bagi manusia.