JANGAN JADI AKHWAT NARSIS!!

Di zaman Arab jahiliyah, wanita selalu menjadi subjek kekerasan dan pelecehan kaum pria. Wanita dianggap sebagai aib bagi keluarga. Maka tidak jarang jika yang lahir dari rahim sang istri seorang anak perempuan, jawabannya adalah kubur hidup-hidup. Ini pun yang pernah dilakukan Umar bin Khattab sebelum menemukan Islam. Hal serupa pun terjadi di zaman Cina kuno. Wanita lah yang selalu menjadi objek penumbalan kepada para dewa demi menyenangkan sang dewa. Dan dalam setiap peradaban kuno posisi wanita selalu saja diletakan dalam level yang sama: 1. Sama-sama hina, 2. Sama-sama hanya dianggap symbol pelampiasan hasrat seksual kaum pria. 

Islam lah yang kemudian merubah semua itu. Posisi wanita diletakkan sedemikian tinggi dalam Islam. Derajat wanita diposisikan sedemikian terhormat. Bagaimana tidak, bahkan kata Rosulullah, syurga itu adalah dibawah telapak kaki ibu. Ya, ibu. Dan seorang ibu tidak lain adalah seorang wanita. Tidak hanya itu, Islam lah yang kemudian membebaskan kaum wanita dari santapan mata-mata liar kaum pria dengan disyariatkan menutup aurat. Dan setau saya, hanya Islam yang menyediakan syariat sedemikian terhormat kepada kaum wanita. 

Sampai akhirnya seiring perkembangan zaman, posisi wanita semakin dihargai dimata dunia. Banyak perkumpulan-perkumpulan wanita terbentuk dan diberikan hak bersuara. Sekarang sudah tidak heran jika Anda melihat ada wanita yang menjadi bos disebuah perusahaan. Dan jangan kaget pula jika ada satpam yang juga seorang wanita. Sayangnya ada miss persepsi diantara kebanyakan wanita. Dengan dibukanya ruang kebebasan berpendapat dan berekspresi banyak diantara mereka yang out of control. Atas nama kebebasan mereka seenaknya saja menggunakan pakaian, mengumbar aurat kemana-mana, dan ketika ada yang mengingatkan mereka selalu bilang, “apa hak loe ngelarang-larang gue?” Masih atas nama kebebasan berekspresi, ada sebagian wanita yang seenaknya saja bergoyang-goyang menggumbar syahwat diberbagai kesempatan publik, termasuk di televisi, dan membranding nama goyangannya tersebut dengan berbagai nama mulai dari goyang ngebor, goyang ngecor, goyang nyangkul, goyang pasak bumi, goyang kayang, goyang patah-patah, goyang gali sumur, goyang benerin genteng, goyang nyampu halaman, goyang bersihin WC, bahkan goayang giling beras pun ada. Hehehe… 

Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang membahayakan bagi kaum mereka sendiri atau izinkan saya menyebutnya sebagai tindakan harakiri alias bunuh diri. Coba bayangkan, Karena ulah segelintir wanita semacam itu, makin banyak laki-laki yang kembali memperlakukan wanita semena-mena, entah sekedar menyiuli mereka, menggoda-goda, pegang-pegang, bahkan sampai memperkosa (ingat perisitwa yang marak dan mulai jadi trend belakangan ini? Yup, Anda benar jika menjawab pemerkosaan dalam angkot). Parahnya lagi banyak diantara wanita-wanita tersebut yang bukannya marah atau merasa dihinakan dengan tindakan terebut justru merasa bahwa itu adalah bentuk penghargaan, penghormatan, dan pencurahan kasih sayang kaum laki-laki kepada wanita (biasanya cewek-cewek bermental kagak bener nih yang kayak begini). Astagfirullahal ‘adzim… 

Nah, diera kecanggihan teknologi informasi seperti sekarang ini wanita semakin mendapat angin segar. Mereka lebih mampu mengekspresikan diri dalam berbagai media, terlebih media sosial yang belakangan ini menjadi konsumsi favorit masyarakat. Kehadiran media sosial ini menjadi suatu indicator eksistensi kaum wanita di mata banyak orang. Tanpa terkecuali kaum akhwat (defisini penulis: wanita berjilbab besar, aktif di organisasi keislaman, memiliki pemahaman Islam yang cukup baik) 

Akhwat-akhwat ini saya yakin sadar dengan berbagai konsekuensi ketika mereka memutuskan untuk bergabung dengan suatu media social, katakanlah Facebook dalam hal ini. Konsukuensinya adalah mereka rela membuka kehidupan pribadi mereka kepada banyak orang, baik yang mungkin mereka sudah kenal atau bahkan kepada yang belum mereka kenal, entah dengan menampilkan alamat rumah, no handphone, hobi, dan minatnya terhadap sesuatu. Yang lebih kongkrit lagi, yakni dengan update status setiap hari dan upload foto-foto disetiap momentum yang mereka lakukan. 

Saya sendiri, memiliki cukup banyak teman akhwat difriend list akun facebook saya baik yang saya kenal atau yang tidak kenal (yang begini, biasanya mereka yang add duluan lalu saya confirm hehehe ikutan narsissss dikit lah). Dari sekian banyak akun-akun tersebut sebagian besar selalu update status yang saya pikir menurunkan dapat harga diri mereka sebagai seorang akhwat. Contohnya, “Duh lagi kesepian nih sendirian dirumah.” Kontan biasanya banyak kaum pria yang comment: “Mau aku temenin ga? Di jamin puas deh!” atau “Wah, kan ada akyu, jadi kamu gak akan kesepian,” atau “Qt jalan-jalan aja yuk?” dan komentar-komentar lain, yang kalau menurut saya bermakna melecehkan. 

Kalau akhwat yang bijak mungkin akan mikir, ketika mereka mengupdate status semacam itu, akan ada dua keburukan yang akan dialaminya. Pertama, harga dirinya sebagai wanita baik-baik akan turun dimata publik, terlebih jika banyak pria yang memberi komentar-komentar melecehkan. Kedua, ia memberikan peluang orang lain untuk membahayakan dirinya. Contoh kasus status alay diatas, taruhlah begini, ketika ia mengupdate status tersebut, tentu akan dilihat semua orang yang ada dalam friend list. Syukur-syukur gak ada yang berniat jahat, tapi akan menjadi masalah jika ada yang berbuat jahat. Bahkan boleh jadi orang yang tadinya gak berniat berbuat jahat seakan diberi kesempatan berbuat jahat, entah merampok dirumah tersebut atau bahkan melampiaskan nafsu seksualitasnya dengan memperkosa, apalagi ketika mereka lihat foto-foto di wall atau album atau profil picture-nya, itu akhwat cantik. Hmmm… bukan tidak mungkin akan jadi mangsa. 

Mungkin ada diantara pembaca yang nyeletuk begini, ah… itu sih imajinasi penulis aja! Hey… sebentar, ente inget dengan kata-katanya Bang Napi? Kejahatan itu tidak terjadi hanya karena ada niat dari si pelaku tetapi juga karena ada kesempatan! Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah! Jadi memang benar, kejahatan itu bukan hanya terjadi karena si pelaku sudah meniatkan berbuat jahat, tetapi juga karena ente-ente pada tuh yang membuka kesempatan mereka untuk berbuat jahat (maaf, bukan bermaksud su’udzon). 

Inget, itu baru dari status lho! Belum lagi dari kegemaran mengupload foto-foto. Masalahnya ini yang jauh lebih berbahaya. Kadang-kadang saya mikir hanya akhwat-akhwat kurang bijak aja yang dengan sangat bangga mengupload foto-foto mereka di Facebook. Mengapa saya katakan begitu, begini ya… coba deh ente mikir, ketika ente upload foto, kemudian dilihat oleh banyak kaum laki-laki atau bahkan ikhwan, secara tidak langsung ente udah mengotori mata dan hati mereka tuh! Dan itu artinya ente ndak bijak, Cuma mikirin dunia ente sendiri, kagak mau mikirin gimana imbasnya buat orang lain. (lagi-lagi maaf, bukan bermaksud su’udzon) 

Saya sempat menemukan kondisi memilukan sekaligus memalukan semacam ini berkali-kali, terutama ketika berkunjung ke kontrakan atau kos-kosan cowok, pria, laki-laki, parahnya lagi ikhwan pun ada yang begitu, mereka memperbincangkan seorang akhwat sambil melihat-lihat foto-foto mereka di Facebook. 

“Wah si akhwat ini cantik banget ya,” 

“Bakal calon istri ana nih akh kayaknya.” 

“Subhanallah, kayak bidadari aja.” 

Dan seterusnya… dan seterusnya… 

Sampai disini mungkin ada yang nyeletuk lagi, “Yeh… itu sih salah ikhwannya aja. Suruh siapa lihat-lihat foto akhwat!” Lagi-lagi saya ingin utarakan pesannya Bang Napi, “Kejahatan (dibaca: dosa) itu bisa terjadi bukan hanya karena niat dari pelakunya tetapi juga karena adanya kesempatan!” Taruhlah begini, ente upload foto, lalu tampil di headline dan dilihat banyak orang. Sangat mungkin saat foto-foto itu tampil di headline ada sekian banyak lelaki yang juga tanpa sengaja melihat, syukur-syukur mereka bisa jaga pandangan, masalahnya kalau nggak gimana? Apalagi kecenderungan laki-laki ‘kan lemah dalam menahan godaan, terutama urusan syahwat. Itu baru satu kejahatan lho: mengotori pandangan dan hati kaum pria. 

Selain itu, coba bayangkan begini, ketika Anda upload foto di facebook, bukan tidak mungkin ada foto-foto yang unsensored ikut terpampang, semisal Anda lagi narsis atau lagi gaya manja atau lagi tidur atau lagi kelihatan lekuk tubuh atau lagi lain-lainnya. Boleh jadi izzah alias harga diri Anda sebagai seorang akhwat akan jatuh bahkan terjun bebas, “Oh ternyata mba ini kayak gini ya aslinya,” atau “Wah, dikampus doank kelihatan alim, ternyata aslinya narsis juga tuh!” atau lain-lainnya, yang tentu akan memudarkan alias menurunkan nilai kewibawaan Anda dimata banyak orang, terlebih adik angkatan Anda. 

Lebih parah lagi, ketika Anda, kaum akhwat, mengupload foto, kemudian ada yang mencuri foto Anda yang mengeditnya menjadi sedemikian rupa (disandingkan dengan gambar tidak senonoh) bagaimana perasaan Anda? Ada kisah nyata, seorang akhwat mengupload foto-fotonya di facebook, tanpa sepengetahuannya ternyata ada yang mencuri alias mengcopy foto-fotonya tersebut dan mengeditnya dengan gambar-gambar tidak senonoh (biasanya atasannya wajah tuh akhwat, bawahannya gambar bugil). Ia baru tahu bahwa foto-fotonya disalahgunakan ketika ada salah seorang temannya yang memberi tahu bahwa foto-foto syur itu dipampang disebuah forumnya para pornonista! Si akhwat langsung syok luar biasa ketika ia meluncur ke TKP. Ia tidak mampu lagi menahan rasa malu. Berhari-hari ia tidak mau keluar rumah karena malu. Sampai akhirnya ada salah seorang teman yang memberitahu bahwa forum tersebut sudah diberangus. Namun, tahukah Anda, ternyata foto-fotonya sudah disimpan banyak member di forum tersebut, sampai kemudian forum yang baru muncul, dan lagi-lagi menampilkan foto-foto syur akhwat tersebut. Nau’dzubillahi min dzalik. 

Anda, terutama kaum akhwat, bisa membayangkan jika hal tersebut terjadi pada diri Anda? Apa yang akan Anda lakukan jika hal tersebut terjadi? Saya berpesan dan semoga Anda bisa menggarisbawahi: MENJAGA LEBIH BAIK DARI PADA MENGOBATI, SEBELUM NASI MENJADI BUBUR, SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN: MENDING GAK USAH DEH PASANG-PASANG FOTO DI DUNIA MAYA APALAGI DI TEMPEL DI MIMBAR MASJID. Hehehe… 

Sedari lama, saya pernah menasehati kaum akhwat (terutama yang pernah satu organisasi, khususnya satu bidang) untuk tidak mengupload foto-foto mereka sembarangan. Alhamdulillah, ada yang sadar tapi tidak sedikit juga yang ngeyel. Untuk yang pada ngeyel, saya berlepas diri dari tuntutan yang akan antuna lakukan di akhirat kelak. 

Lalu bagaimana solusinya agar terhindar dari semua kemudharatan ini? 

  1. Jangan update status alay, lebay, unyu-unyu, ababil, galau, atau status gak penting lainnya di facebook (atau social media manapun). Update lah dengan status-status berbobot yang bisa membawa nilai positif untuk orang lain, mencerahkan orang lain, dan menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Gunakan media social sebagai ladang bagi Anda untuk mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Ingat Sabda Rosul, “Baliguni walaw Aayah,” sampaikanlah walaupun 1 ayat! Taruhlah, setiap hari misalnya Anda mengupdate status dengan tausiyah, hadist Nabi, ayat Qur’an kemudian ada sekian banyak orang tercerahkan karenanya, sudah tentu ALLAH pun akan memberikan hadiah untuk Anda. Hadiah special berupa pahala. Lebih spesialnya lagi, jika orang-orang yang Anda cerahkan itu menularkan bibit kebaikannya kepada orang lain, sehingga semakin banyak orang yang berbuat kebaikan, itu artinya tabungan pahala Anda pun semakin besar, hingga di akhirat kelak Anda tidak sadar bahwa Anda memiliki Bank Pahala yang begitu banyak. 
  2. Jangan pernah upload foto di Facebook, kasus yang saya utarakan diatas adalah satu dari sekian banyak kasus yang menimpa kaum akhwat. Saya yakin benar itu bukan satu-satunya kasus yang terjadi. Lagipula apa sih untungnya Anda upload-upload foto? Untuk pamer kecantikan? Biar dilirik banyak lelaki? Biar dianggap kembang kampus? Biar cepet dapet jodoh ikhwan keren? Halah!! Lupakan aja semua itu. Inget, Mba Bro..! Kalau mereka memuji Anda dengan panggilan si cantik, bidadari, jelita, atau lainnya lantas apa efeknya untuk Anda? Saya yakin yang ada justru Anda bisa lupa diri, takabur, lalu berubah jadi sombong! Padahal Anda tahu, yang pantas sombong hanya ALLAH saja. Ketika Anda sombong, boleh jadi secara tidak langsung Anda ingin menyaingi ALLAH. Lagipula, bukankah sebaik-baiknya Anda pamer kecantikan hanya untuk suami Anda saja? Lalu ngapain pamer kecantikan kepada orang-orang yang bukan mahram Anda? (Maaf ya, ini cuma contoh gak ada niat mensu’udzoni antuna) Taruhlah kalaupun Anda tetap ingin upload foto (untuk Facebook), tolong di setting private atau setting custom agar cuma yang Anda tag saja yang bisa melihat, tidak dengan setting public. Kebanyakan dari orang itu, cuma bisa pakai saja tanpa ngerti fasilitas-fasilitas yang disediakan Facebook kepadanya. Untuk yang seperti ini, izinkan saya mengucap: Ndeso!!!! Hehehe… Sedangkan untuk media social lain, kalaupun Anda ngeyel pengen tetap pasang foto, Anda bisa resize foto Anda dengan ukuran yang kecil, dengan begitu jika ada orang iseng yang mau ngesave atau copy foto Anda mereka cuma dapat ukuran seiprit itu. Gunakan ukuran sekecil mungin. Anda bisa edit foto Anda baik lewat Photoshop, Picassa, Ms. Picture Manager, atau program lain yang Anda ketahui lalu resize ukurannya. 
  3. Jangan sekali-kali meng-add ataupun meng-confirm orang-orang yang belum Anda kenal, terlebih orang tersebut adalah laki-laki (bahkan ada kok laki-laki yang pakai akun palsu bernama perempuan. Buat yang berbuat begini, gue udah tau trik-trik loe tong). Beruntung jika orang tersebut bukan orang jahat, lalu jika orang jahat? Sayangnya, Anda mungkin akan berujar begini, “Ah, gak boleh su’udzon gitu!” Saya lagi-lagi menegaskan, alangkah baiknya jika Anda menjaga diri Anda dari berbagai kemungkinan yang terjadi, terlebih dari kejahatan orang lain. 
  4. Jangan mengisi data diri Anda secara lengkap. Hal ini sangat berbahaya ketika ada orang jahat yang melihat kemudian mengintai Anda kemudian melancarkan tindak kejahatan kepada Anda. Contoh kecil dari status alay di atas, “Duh lagi kesepian nih sendirian dirumah.” Bayangkan jika orang jahat atau yang Anda beri kesempatan berbuat jahat tersebut melihat data diri, alamat rumah, kemudian mendatangi rumah Anda untuk berbuat kejahatan. Apa yang bisa Anda lakukan jika sudah begini? Selain itu, jangan sekali-sekali mempublish alamat email Anda. Karena para hicker sering beraksi melalui alamat email Anda ini. Sekarang banyak sekali software-sofware untuk menghick media social, terutama facebook, dan cara termudah adalah dengan mengetahui alamat emailnya. Bahkan saya pun bisa saja menghick akun facebook Anda jika saya memang berniat jahat. Atau untuk yang biasa ke warnet, setelah Anda membuka entah itu media social, blog, web, atau apapun milik Anda pribadi, pastikan akun Anda sudah benar-benar di close! Karena jika tidak, itu artinya Anda memberi peluang orang lain untuk menyalahgunakan akun Anda. 
  5. Jangan mudah percaya dengan produk-produk yang sering ditag ke wall facebook Anda, terutama produk-produk elektronik (entah laptop, kamera, handphone, dll), khususnya lagi yang berlabel BM alias Black Market. Kebanyakan yang seperti ini cuma hoax alias scam alias tukang tipu alias penjahat cyber. Kalaupun bener, Anda harus benar-benar teliti dan waspada terhadap gerak-gerik penjualnya. Usahakan pakai rekening bersama (silakan tanya mbah google aja, apa itu rekening bersama atau klo bayarnya boleh pakain dollar, coba gunakan Paypal). Sebagai bahan pembelajaran, sempat suatu kali saya kena tipu. Waktu itu, saya niat mau beli kamera Canon DLSR. Harga yang terpampang disana hanya 3 juta-an, padahal saya tahu benar harga aslinya sekitar 6 – 7 juta an. Karena waktu itu udah ngiler dan sangat menyakinkan promonya. Gimana nggak meyakinkan, itu penjahat hick akunnya Pak Adang Darajatun untuk promo—begini kalimatnya: Kemarin saya baru jalan-jalan ke bea cukai, lihat-lihat barang sitaan disana. Ternyata banyak barang elektronik yang dijual murah. Saya beli Kamera Canon, Macbook Air Aple, Blackberry. Jika ada yang ingin beli, hubungi sepupu saya saja, saya kasi no contactnya via inbox. Setelah itu saya segera hubungi “Pak Adang” via inbox kemudian diberi no contactnya atas nama Ari Susanti. Besoknya saya transferlah itu uang. Ini kali pertama saya bertransaksi online, jadi masih lugu dengan geliat mencurigakan. Ternyata hingga berhari-hari barang tidak pernah sampai dan no penjahat bernama Ari Susanti tersebut tidak pernah aktif lagi. Semoga kebodohan saya ini, bisa menjadi pelajaran berharga bagi Anda. 
  6. Memohonlah kepada ALLAH agar DIA menghindarkan Anda dari segala kejahatan hamba-hambanya. Setiap pagi dan petang biasanya, yang rutin melakukan dzikir pagi dan petang akan menemukan doa indah tersebut, “Audzubikalimatillahit tammati min syarri maa kholaq” (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat ALLAH yang sempurna dari keburukan yang dia ciptakan, atau dalam versi lain, Aku berlindung dengan kalimat-kalimat ALLAH yang sempurna dari keburukan dan kejahatan hamba-hambaNYA) 
  7. Perbanyaklah shodaqoh! Salah satu keutamaan shodaqoh adalah bisa mengindarkan Anda dari segala bala alias musibah alias keburukan. Dalam sebuah hadist disabdakan begini, “Bala tidak akan mendahului shodaqoh.” Jadi demi menjaga diri Anda dari segala bala, banyak-banyaklah sedekah. Demi ALLAH banyak sekali keutamaan dalam shodaqoh ini. Banyak orang sudah merasakannya. Dan yang terpenting: ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MENGINGKARI JANJINYA! Jadi, Anda nggak perlu takut ALLAH tidak akan menurunkan keutamaan shodaqoh ini kepada Anda 
Tulisan ini saya buat bukan untuk menggurui, su’udzon, apalagi mengutuki. Ini semata-mata sebagai bentuk tanggung jawab saya sesama saudara kepada saudara lainnya, terutama kaum hawa, agar terhindar dari keburukan. Saya mohon maaf jika ada diantara sahabat sekalian yang tersinggung. Demi ALLAH, saya tidak ada niat sedikitpun untuk membuat Anda marah. Semoga bermanfaat. Ketemu lagi dalam tulisan saya selanjutnya. See You 

Di belakang Pria yang Kuat, Selalu Ada Wanita Hebat!

BETAPA hebat menjadi wanita. Lembut, penuh kasih, dilindungi, dihormati dan dihargai. Kehadirannya diperlukan oleh setiap manusia di semua peringkat usia. Sebagai anak dia menyenangkan. Sebagai saudara, dia menenteramkan. Sebagai isteri, dia menginspirasi. Sebagai ibu, dia pendidik ulung dan sebagai teman, dia dikenal sebagai penasihat yang ikhlas.

Di sebalik kekurangannya dari sisi akal dan agama, dalam banyak situasi, wanitalah pemeran utama di belakang layar. Baik pendidikan yang diterimanya, baiklah pula pengaruh yang dibawanya.

Boleh dikatakan, wanita adalah penentu jatuh atau tegaknya pria. Malah dalam banyak kisah dari seluruh dunia , dialah yang membangunkan pria, memberikan motivasi dan buah fikiran yang tak dapat ditepikan.

Hal yang sama berlaku kepada keluarga Muslim-mukmin yang cinta li ilah li kalimatillah, jihad fi sabilillah.

Dalam sebuah keluarga, posisi paling penting adalah sebagai isteri, karena dialah orang yang paling dekat dan paling mengerti suaminya. Di sinilah letaknya makna syarikatul hayah (pasangan kehidupan), yang setia menjadi sayap suami dalam keadaan suaminya hadir dan sewaktu ketiadaannya. Bersungguh-sungguh berusaha membantu secara hakiki dan maknawi dalam mencapai cita-cita hidup mulia atau mati syahid.

Firman Allah Subhanahu wa-ta'ala di dalam surah At-Taubah, ayat 71;

“Dan orang-orang yang mukmin pria dan wanita, sebahagian daripada mereka adalah penolong bagi sebahagian yang lain, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, mereka mendirikan shalat, mengeluarkan zakat dan ta’at kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Bijaksana.”
Apakah syarikatul hayah (partner kehidupan?), apakah kriteria yang diperlukan? Secara ideal, seorang wanita Muslim haruslah memiliki modal:

1. Memiliki tingkat iman dan taqwa yang memadai

Paling tidak, mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Cukup pula untuk dia memilih dan memilah yang halal, haram dan yang syubhat. Dengan demikian, dia menggenggam izzah-nya dengan kuat.

Bila sudah berbekal dengan iman dan taqwa, dia tidak akan mudah berputus asa dan kemudian diserang kemurungan apabila ditimpa musibah. Dan dua bekal tersebut akan menjadi benteng dirinya dari terjebak ke dalam perbuatan atau kerja yang berisiko mengancam aqidah dan akhlaq.

2. Sebaiknya dia menguasai ilmu dien dan akademik

Wanita yang berwawasan akan menyadari kepentingan ilmu lantaran dialah yang akan memikul tanggung-jawab sebagai guru besar kepada anak-anaknya, baik semasa keberadaan suami di rumah maupun pada saat ketidakhadiran suami. Dengan ilmu, dia mampu berperan sebagai pembantu pribadi suami dan berupaya menjadi pendidik kepada anak-anaknya.

Sementara dengan kemahiran atau skill-skill tertentu, antara lain, memasak, menjahit, mengajar, memandu kenderaan dan lain-lain, dia akan memiliki inisiatif dan kreativitas dalam menjalani hidup, baik bersama suami mahupun ketika bersendirian.

3. Berkemampuan mengendali emosi

Wanita Muslim yang baik, ia harus sanggup bersusah-payah dan berusaha untuk qanaah, karena suami yang cintakan Allah, agama dan jihad akan otomatis menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, bukan sebagai kesenangan dunia semata. Menurut istilah Imam Asy-Syafii rahimahullah, “Hakikat zuhudadalah tidak meletakkan dunia di hatinya.”

Ini bermakna, bahwa seorang isteri harus kuat menahan hati dan emosi bila suatu saat, kekayaan kita mulai berkurang.

4. Memiliki mental yang kuat

Dalam bahasa yang lebih mudah, wanita harus kuat menahan perasaan. Ada banyak kondisi dan situasi yang menuntut kemampuan ini; kepergian suami dalam waktu lama, anak yang sakit di kala suami sibuk dan tak dapat mendampingi, keperluan ummat yang menyita waktu bersama suami. Atau ujian berat, ketika para wanita mendapati suami-suami mereka di penjara. Sementara keluarga yang tidak mendukung dan kondisi keuangan yang tidak stabil, adalah satu hal yang tak dapat tepiskan begitu saja. Bahkan berat pula kondisi ketika para suami berkeinginan “membantu” mengangkat derajat kaum hawa menjadi pendamping.

Sungguh luar biasa semua itu, jika perasaan marah, cengeng, dan cemburunya mampu diletakkan di tempat yang betul dan baik serta wajar.

5. Mampu mengawal diri dari sifat buruk yang timbul dari situasi tertentu

Sifat buruk di sini antara lain adalah; membanggakan diri sebagai isteri, dengan itu dia paling tau banyak hal. Membanggakan suami dan merendahkan orang lain bisa juga menganggap dirinya orang paling malang dan paling memerlukan perhatian banyak orang ketika sedang ditimpa musibah dan lain sebagainya.

6. Memiliki daya tahan dan kemahuan yang kuat

Daya tahan seorang istri-lah yang menjadi inspirasi dan menjadi pendorong utama para suami untuk melaksanakan amal dan karir. Dia ibarat antibodi yang gigih melawan sembarang jenis bakteri, kuman dan virus yang menyerang jiwa dan semangat suami dan keluarga.

Dia berkemauan kuat untuk bersama-sama suaminya menempuh ombak lautan perjuangan di dalam kapal bernama “jihad” dan rumahtangga menuju jannah Rabbnya. Dengan kemauan kuat yang kadang kelihatan seperti sebuah kedegilan, jiwa rapuh ditegakkan, semangat layu disegarkan dan air mata diusap dan diganti dengan senyuman.

7. Selalu berinisiatif untuk kelihatan menarik di mata suami

Wanita Muslim harus menarik dari berbagai segi; penampilan, cara berpakaian, berfikir, bersikap, berbicara dan mengambil keputusan, dalam waktu senang maupun susah. Wanita sebeginilah yang RasulullahShalallaahu 'Alaihi Wasallam maksudkan dalam sebuah ucapannya,

“Tidakkah mau aku kabarkan kepada kamu tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? Wanita sholehah adalah wanita yang bila dilihat suaminya menyenangkan, bila diperintah ia mentaatinya dan bila suaminya meninggalkannya, ia menjaga diri dan harta suaminya.” [Hadith riwayat Abu Daud dan An-Nasa’i)

Berbahagialah wanita yang membahagiakan suaminya. Pria yang berjaya adalah pria yang bahagia lantaran telah memperoleh sebaik-baik perhiasan.

Rasulullah dalam sebuah haditsnya mengatakan, "Ad dunya mata', wa khoiru mata'iha al mar'atus Shalihat."(dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah isteri Shalihat, HR. Muslim)

Pria yang berjaya adalah pria yang jiwanya bahagia dan merdeka, adalah pria yang tidak terpenjara oleh ulah dan ragam wanita di sisinya. Untuk itu, kesempatan belajar dan hak dididik perlulah diberi kepada kaum wanita. Tak ada ruginya pria memberi kesempatan wanita belajar. “You get what you give.”

Yakinlah, tangan yang menghayun buaian, akan mampu menggoncangkan dunia. Wallahu a’lamu bish-shawabi. (Hanya Allah yang Maha tahu kebenarannya)

Antara Cinta, Aturan dan Islam

Cinta...

Ruh yang mengalir lembut,

menyenangkan, bersinar,
jernih, dan
ceria...

Cinta...
Ruh yang mengalir lembut,
menyesatkan, berderai,
jernih, dan
badai...
Sulitkah membedakannya...


Akan ada suatu babak dalam kehidupan manusia, ketika kita merasa ada seseorang yang tiba-tiba memberi perhatian lebih kepada kita.

Akan ada suatu babak dalam kehidupan manusia ketika kita harus mulai merelakan kepergian orang-orang yang kita sayangi karena sesuatu hal, karena umur(maut) misalnya.

Dan akan ada pula suatu babak dalam kehidupan manusia ketika kita dituntut untuk bisa memilih pilihan-pilihan,yang ke-iman-nan lah landasannya.

Cinta adalah suatu yang wajar dalam kehidupan ini. Dia tlah melekat erat di jiwa dan telah menjadi fitrahnya kita sebagai manusia. Dia adalah nyanyian surga, membuai semua makhluk ciptaan Allah yang mendengarnya. Ketika senandungnya mulai berdendang maka tidak ada suatu hatipun yang akan kehilangan asa. Bahkan bumipun terus berputar tanpa lelah karena wujud cinta kepada Tuhannya-Allah-.

Cinta... dia adalah sebuah harapan, kerinduan, sebuah panggilan jiwa untuk selalu -ingin dekat saat jauh-, -ingin segera bertemu saat berpisah-, -ingin selalu tak terpisahkan-, -ingin selalu bersama saat suka maupun duka-, -ingin selalu tak berakhir-...
Cinta... ya, itulah Ia...

Namun di sisi lain,

Cinta... dia adalah derita, cobaan, hinaan...

Maka selayaknya hidup, cinta pun butuh aturan...

Aturan dalam mencurahkan, dan menyampaikannya agar dengan petunjuk, cara, atau aturan tersebut, cinta tersebut di ridhoi oleh Allah SWT.
Aturan dalam mengapresiasikannya agar menjadi terbuktilah sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya sesama mukmin itu bersaudara” 

Namun kenyataannya, manusia jaman sekarang hidup dalam ketidak-teraturan yang amat sangat. Jika memang ada aturan, namun bukanlah yang seharusnya dipakai...

Padahal kitalah yang mengakui sendiri bahwa diri ini adalah seorang muslim, lahir dengan panggilan Ilahi untuk menjadi muslim yang selalu menyempurnakan keimanannya, untuk menjadi muslim yang selalu menyempurnakan aqidahnya...

Padahal kitalah orang yang paling lantang “berbicara” ketika melihat saudara Muslim “disakiti”, di injak-injak harga diri, kehormatan, dan kebebasan untuk beribadahnya...

Padahal kitalah yang selalu berkata dalam tiap shalatnya,”asyhadu anla illa ha illallah, wa asyhadu anna muhammadar Rasulullah”...

Padahal kitalah yang selalu berkata dalam tiap do’anya,”Ya Allah, cintailah daku sebagaimana Engkau telah mencintai hamba-hambaMu yang telah mendahuluiku dalam beriman kepadaMu, jadikanlah daku kekasihMu sebagaimana Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihMu”...

Padahal kita sendirilah yang “berjanji” dihadapanNya, saat sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad-di alam ruh-, saat perjalanan hidup-di alam dunia-, dan saat dimintai tiket perjalanan ke surga-di alam akhirat-, untuk hanya mengibadahi Allah saja, untuk hanya beraturan Al-Qur’an saja, untuk hanya berkepimpinan Rasul saja, untuk berketaatan hanya kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri saja...
Padahal...padahal...padahal,,,

Lalu sekarang?! Mana bukti perkataan itu, bukti ucapan itu, bukti pernyataan itu, bukti do’a itu, bukti perjanjian itu? Mana bukti semua kecintaan kepada Rabb mu itu???
Duh, begitu berat amanah yang sedang kami pikul ini ya rabb...

Maka selayaknya ibadah, cinta pun butuh aturan...

Ya, aturan dalam mengaplikasikannya agar cinta pun kini menjadi ibadah, cinta dan benci pun kini menjadi karena Allah saja...

Dahulu sekali -kurang lebih 14 abad yang lalu- telah ada yang memperjalankan semua ini. Mengubah hal yang di anggap kebanyakan orang saat itu sebagai mimpi, khayalan, sebuah keniscayaan... tapi waktu-Allah- telah membuktikannya, dia dan para sahabatnya telah berhasil memperjalankan semua ini.
Ah, mungkin karena ia adalah malaikat?

Bukan, tapi dia adalah manusia, sama seperti para sahabatnya, sama seperti diriku, sama seperti dirimu...
Hanya saja Ia dan para sahabatnya adalah manusia “pilihan”.

Ya, yang dengan sadar telah mengambil “pilihan” untuk memperjalankan Islam sebagai sebuah sistem hidup yang menyeluruh.

Ya, yang dengan sadar telah mengambil “pilihan” untuk membuktikan semuanya. Perkataan itu, Ucapan itu, Pernyataan itu, Do’a itu, “Perjanjian” itu, dan semua Kecintaan kepada Rabb nya itu...
Mereka itulah orang-orang “pilihan”...

Inilah realita Islam dahulu, dan inilah juga realita Islam jaman sekarang.

Tumbuh, besar dan menangnya Islam bukanlah semata karena banyaknya jumlah pengikutnya yang mau memeluk Islam-toh sekarang jumlah penduduk dunia mayoritas adalah Muslim-, tapi seberapa banyak muslim yang sadar dan mengambil “pillihan” untuk memperjalankan Islam sebagai “sistem hidup yang kaffah”. Sadar lalu mengambil “pilihan” untuk berbaris rapi dan merapihkan barisan, berbaris dalam barisannya Rasul, berbaris dalam barisan yang telah dibuat dan diperjalankan selama 14 abad lebih, dan bukan berbaris dalam barisan lain bahkan membuat barisan baru yang belum teruji selama 14 abad.

Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kukuh...

Sehingga tidak ada lagi istilah atau slogan-slogan –pacaran Islami*-, -Islam garis keras*-, -Muslim yang ibadahnya hanya shalat*-saja, dsb...

Slogan-slogan yag kesemuanya hanya untuk mengaburkan hal sebenarnya sudah jelas tertulis. Bukankah pengaburan-pengaburan seperti itu yang sedang gencar saat ini, namun akankah aktivis da’wah pun tertipu?

Atau pengelompokan-pengelompokan dalam Islam, –Muslim yang hanya ingin ber ubudiyah-saja disini tempatnya, -Muslim yang hanya ingin berpolitik-saja disini tempatnya, -Muslim yang hanya ingin berjihad-saja disini tempatnya, Muslim yang hanya ingin berdzikir-saja disini tempatnya, Muslim yang hanya ingin berekonomi Islam-saja disini tempatnya, dan yang lain-lain disinilah tempatnya...

Hei tunggu dulu, apakah ber-ubudiyah itu salah? Berpolitik, jihad, dzikir, berekonomi Islam itu salah, dan yang lain juga menjadi salah???

Demi dzat yang nyawaku dan nyawamu ditanganNya, insya Allah semua itu benar. “Benar, namun hanya ketika kita tidak parsial jika sudah memilih Islam“. 

Bukankah Allah telah menyempurnakan Islam, telah meridhoi Islam sebagai agama, telah menyempurnakan risalah yang diperjalankan Rasulullah?

Bukankah dalam ber-Islam itu harus utuh, tidak boleh parsial-sebagian-, tidak boleh sebagian ayat diambil namun sebagian lagi ditolak-mungkinkah hal itu?-

Ya itulah realita Islam saat ini...
Jika luasnya Islam diibaratkan lautan, maka ketika kita hanya mengambil satu gelas dari keseluruhan air di lautan apakah lantas gelas tersebut kemudian bisa dikatakan menjadi lautan walaupun mereka berasal dari sumber yang sama...?

Jika misalnya yang dikatakan Islam itu adalah sebuah rumah, maka apakah sama sebuah rumah dengan teras?

Mengapa dapat dikatakan sebuah rumah?
Terdiri atas bagian apa saja, sehingga ia baru bisa dikatakan sebagai sebuah rumah?
Akankah aktivis da’wah pun tertipu?...-lagi-

Sahabatku, akankah kita selalu kokoh dalam perjuangan ini? Sungguh, amanah ini terlalu berat jika harus dipikul sendiri.
Sahabatku, cukuplah Allah saja yang tau maksud hati ini, apalah penilaian manusia jika dibandingkan dengan penilaian Allah... cukuplah kita kokoh dengan seruan “inilah jalan da’wah ku”.

Sahabatku, jalan da’wah ini masih panjang. Baru beberapa fase dari keseluruhan fase da’wah Rasulullah. Bersabarlah sejenak, jangan terlalu terburu...

Sahabatku, berdirilah disampingku. Kuatkanlah aku ketika lemah, jadilah saudaraku dalam perjuangan panjang ini. Dan buktikanlah sendiri bahwa janji Allah adalah benar...

Sahabatku, selayaknya hidup maupun cinta. Maka ibadah pun membutuhkan aturan... 

Ya, aturan dalam menjalankannya. Karena sahabatku, ibadah itu membutuhkan ketauhidan, ibadah itu membutuhkan ke-kaffah-han, ibadah itu membutuhkan ke-i’tishom-an, ibadah itu membutuhkan ke-izhar-an, ibadah itu membutuhkan ke-ikhlas-an atau kemurnian...

Mari bersama menetapi Islam sebagai sistem hidup kaffah diatas...
Sahabatku, sudah cukup lama dunia tertipu. Akankah kita pun tertipu?...-terus-

Duh.. Internet Merampas Suamiku.

Dahulu kami menikah karena cinta, bertahun-tahun hidup dalam kebahagiaan, hingga akhirnya kami pun dikaruniai empat anak. Aku mulai merasakan kehidupan indah ini menjadi rutinitas dalam keluarga. Tetapi, lambat-laun kehidupan indah itu mulai sirna, perasaan cinta dan rindu antara aku dan suami mulai menipis. Suamiku selalu mengisi hari-harinya dengan aktifitasnya, makan sepulang dari kerja, kemudian berbincang sebentar tentang urusan anak-anak, lalu menuju tempat favoritnya, duduk di depan komputer menjelajahi internet, dan akan terus di situ sampai waktu tidur tiba. Setelah itu dia akan langsung tidur dengan alasan lelah atau apa.

Muslimah juga Manusia...


Duh, memangnya ada muslimah nyebelin?

Harusnya sih muslimah menjadi sosok menyejukkan, yang membawa kedamaian dan bukan malah bikin sebel.

Kenyataannya ada aja muslimah yang dianggap nyebelin. Mungkin juga oleh sesama muslimah. Tengok deh kiri kanan kita, depan belakang. Mungkin kamu akan dengan gampang aja nemuinnya. Atau, lihat ke cermin. Waa... jangan-jangan muslimah nyebelin itu kita sendiri!

Lho, kok bisa?

Ya, bisa dong. Bagaimanapun, muslimah juga manusia, dan manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Kalau begitu, kenapa yang kita soroti harus muslimah bukan orang umum?
Sebab muslimah dengan kerudung dan aktivitas keislamannya, punya sosok manis dan izzah (kewibawaan) yang harus dilindungi. Sebab orang menilai Islam dari pengikutnya.

Ajarannya sendiri mah mulia banget, gak ada cela. Tapi cela yang dibuat oleh followernya yang bikin image Islam terpuruk.

Berjilbab gak membuat seorang muslimah jadi malaikat. Sepakat, kan?

Berjilbab menunjukkan sebagai muslimah, dia sudah membuat satu komitmen ‘taat’ yang lebih dibanding muslimah lain. Tentu saja komitmen harus terus diperbaharui, serta ditambah dengan komitmen ‘taat’ lain yang masih sederet.

Di luar itu, proses menjadi hamba Allah yang lebih baik harus terus dilakukan. Meskipun selamanya mungkin kita gak bakalan mencapai titik sempurna itu.

Kita mulai intip yuk, apa aja sih yang membuat muslimah jadi nyebelin dan gak asyik dijadiin teman gaul?

Tapi sebelumnya, harus disepakati dulu, definisi nyebelin di sini bukan berarti tiap hari kita membuat orang lain ngamuk-ngamuk lalu merasa aman ketika gak ada yang marah-marah sama kita. Bukan itu.


Nyebelin di sini maksudnya, kalau in any way, kamu mengganggu kenyamanan orang lain. Apakah hati, pikiran, rasa, atau bahkan panca indra.

Nah, orang-orang yang terganggu atau menjadi sebel dengan satu sisi darimu (gak berarti sebel secara keseluruhan), ada yang langsung bicara dan memberitahu, tapi gak sedikit yang dengan berbagai alasan memilih bungkam.

Ini yang bahaya. Mereka diam, bukan karena gak bermasalah atau gak pernah terganggu. Kebanyakan merasa gak enak, takut ribut, takut nimbulin masalah sebab banyak orang yang gak siap dikritik, atau diberi tahu kekurangnnya. Atau ada juga yang memang gak kenal sama kamu, dan cuma kebetulan ketemu di bis, wartel, angkot, atau mall, jadi ya... ngapain ngasih tau, toh setelahnya gak ketemu lagi.

Soal kritik itu, Al Ghozali mengumpamakan orang yang memberimu masukan sebagai orang yang menyelamatkanmu, ketika kamu duduk di atas sebuah kursi dengan nyaman, sedangkan diam-diam seekor ular melingkar di bawah kursimu.

Haruskah kita marah terhadap orang yang memberi tahu sehingga kita bisa lari dan selamat dari gigitan atau lilitan ular?

Harusnya sih gak. Masa kita marah sih padahal dia udah nyelamatin hidup kita?

Begitupun kekurangan. Sedikit atau banyak, kekurangan seharusnya disempurnakan, biar muslimah bisa jadi hamba Allah yang lebih baik dari hari ke hari. Biar muslimah bisa menjadi contoh yang membawa orang lain pada kebaikan.

Tapi, gimana kalau kita tidak pernah tahu apa kekurangan kita?

Inilah gunanya saling mendengar, menasihati, memberi masukan, dan saling legowo menerima kritik.

“Let’s be a better muslimah everyday!”

Bukti Cinta


Sungguh…! Keberadaan cinta dalam kehidupan dunia teramat menarik dan unik. Hingga semua makhluk berusaha untuk menggapainya. Itu semua terjadi karena mereka telah merasakan kalau cinta dapat memberikan ketentraman, damai, sejuk dan kehangatan serta membikin hidup lebih hidup. Bahkan mereka rela untuk mempertaruhkan eksistensi keberlangsungan hidup demi hidup untuk mendapatkan cinta.

WANITA DAN FALSAFAH BAHASANYA


Dilihat dari segi bahasanya, kata “im-ro-ah” bersaudara atau satu rumpun dengan kata “mir-aah”. Im-ro-ah bermakna wanita sedang mir-aah bermakna cermin. Lantas apa hubungannya wanita dengan cermin? ternyata hubungan keduanya saling berdekatan. Dalam kesusastraan Arab dikatakan, bahwa setiap kata yang berasal dari rumpun yang sama maka kedua kata itu bermakna satu. Karena itu kedua kata diatas memberikan  satu arti, bahwa wanita adalah cermin suatu keadaan (generasi).

Disebut cermin karena sifatnya mampu merefleksikan kepribadian. Mampu memberikan gambaran suatu kondisi/keadaan. Sifat ini dijelaskan dalam sabda Nabi sebagai berikut :